Sunday, December 2, 2018

Kuingin Kembali ke Madinah



Jika ditanya tempat destinasi wisata impian, jujur saya nggak tahu pengen pergi ke mana lagi selain menginjakkan kaki ke Negara Arab. Pengennya bisa segera menunaikan ibadah haji, dan saya harus bersabar cukup lama menunggu antrian keberangkatan. 

Sambil menunggu berangkat haji, bulan Oktober lalu saya dan suami mendapat rejeki umroh ke tanah suci. Pengalaman selama umroh membuat saya jatuh hati pada Madinah yang menentramkan hati. Jadi, kalau ditanya tempat destinasi wisata impian, jawaban saya sekarang adalah: Madinah.


Kenapa nggak Mekkah sebagai pusatnya Kabah?

Mekkah adalah tujuan utama untuk umroh dan haji. Saya bahagia bisa beribadah sangat dekat dengan Kabah yang diagungkan umat muslim seluruh dunia. Namun, keagungan Madinah membuat saya merasa lebih nyaman berada di sana dibandingkan saat di Mekah.

Saya di depan Kabah di Masjidil Haram Mekah



Kalau sudah ada di Madinah, tentu saja saya pasti akan datang ke Mekkah. Namun, jika semesta mengijinkan, saya ingin tinggal lebih lama di Madinah sebelum mengunjungi Mekkah. Atau habis dari Mekkah, saya balik lagi ke Madinah, hehe.

Kenapa Madinah?

Kota Madinah adalah salah satu dari kota suci umat Islam setelah Mekah. Di kota ini ada Mesjid Nabawi tempat Nabi Muhammad dimakamkan. Madinah menjadi tempat hijrah, tempat tinggal, dan tempat Nabi Muhammad meninggal. Lalu Allah SWT menjadikan Madinah sebagai tempat kelahiran Islam. 

Kehidupan yang nyaman di kota ini karena banyak keberkahan. Segala pahala kebaikan yang dilakukan di Madinah akan dilipat gandakan, seperti shalat, puasa, dan bersedekah. 

Penduduk Madinah dipilih sebagai penolong dan pelindung, kemudian mendapatkan syafaat pertama dari Nabi, kemudian baru penduduk Mekah. Di Madinah terdapat  makam orang-orang Islam terbaik seperti para sahabat nabi, kaum ulama dan cendekia muslim dari generasi ke generasi. 
“Barang siapa yang meninggal dunia di Madinah hendaknya dia menerimanya (dengan bahagia) karena tidak ada orang yang meninggal dunia di Madinah kecuali kelak aku akan memberi syafaat kepadanya,” (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi).

Makam Nabi Muhammad di Masjid Nabawi

Saya memang hanya 3 hari berada di Madinah. Tepatnya di dekat Mesjid Nabawi. Mesjid nabawi adalah masjid terakhir pada jaman Nabi dan selalu dipadati oleh umat muslim dunia untuk diziarahi.

Saya di halaman Mesjid Nabawi pada sore hari

Melaksanakan shalat fardhu dan shalat sunah di mesjid ini akan mendapat pahala seribu kali lipat seperti di Masjidil Haram Mekah. Bahkan siapa saja yang shalat sebanyak 40 kali waktu shalat secara berturut-turut di Masjid Nabawi, akan dibebaskan dari api neraka, diselamatkan dari siksa, dan dijauhkan dari kemunafikan. Sayang, saya cuma sebentar. Kalau tinggal lebih lama mungkin bisa terlaksana.


Siang hari berteduh di bawah payung raksasa 


Suasana malam hari di Mesjid Nabawi

Hal yang paling membahagiakan adalah saya pertama kali melaksanakan shalat jumat di Mesjid Nabawi. Saya belum pernah ikut shalat jumat seumur hidup. Masyarakat di negara kita tidak mewajibkan perempuan untuk ikut shalat jumat di mesjid.

Pilar dan langit-langit di dalam Mesjid Nabawi

Hari pertama tiba di Madinah, saya langsung ikut shalat jumat di Mesjid Nabawi. Rasa haru membuncah dan sulit dilukiskan oleh kata-kata betapa bahagianya hati saya saat itu... 

Pada malam hari, masih di hari pertama, saya mendatangi tempat paling mustajab di Mesjid Nabawi  yaitu raudah. Raudhah disebut sebagai taman surga, yaitu tempat di antara mimbar Masjid Nabawi dengan rumah Rasulullah. Di tempat itu Nabi Muhammad selalu berkhutbah. Untuk bisa shalat dan memanjatkan doa di tempat ini perlu perjuangan tersendiri. Alhamdulillah, saya berhasil mencapai raudhah dan berdoa di sana.


Ketika menuju Raudhah


Bersama para pejuang raudhah

Tempat lain yang tidak kalah berkesan adalah Gunung Uhud yang menjadi lokasi perang para pejuang muslim di jaman Rasulullah. Gunung dari batu granit ini adalah gunung terbesar di Madinah. Di kaki gunung terdapat makam para syuhada perang pembela umat Islam.

Foto dengan latar belakang Gunung Uhud

Tidak banyak tempat yang dikunjungi selama saya berada di Madinah. Berkeliling dengan berjalan kaki di sekitar Masjid Nabawi dan hotel juga nggak berani jauh-jauh. Maklum, baru pertama kali umroh dan fokusnya cuma mau ibadah di dalam Mesjid Nabawi saja. Jadi saat jamaah lainnya sibuk keliling berburu oleh-oleh, saya mah santai aja beli yang ada di sekitar hotel, hehe.

Oia, kami sempat mengunjungi The Holy Quran Exibition dan menyimak sejarah tentang Al Quran yang disajikan secara digital. Letaknya masih di sekitar Mesjid Nabawi. 

Menyimak sejarah Al Quran


Segitu aja dulu, ya. Ibarat orang yang sedang jatuh cinta, cerita tentang kota Madinah sebagai tempat wisata impian bisa nggak beres-beres kalau diterusin. Semua foto juga nggak saya keluarin karena ada banyak. Kalau sempat, postingan khusus tentang umroh nanti saya bikin di blog satu lagi.

Saya mau lanjut ke dapur buat masak makan siang. Tadi sih udah mateng bikin tekwan. Kebetulan suami lagi ikut aksi reuni 212 di Jakarta hari ini. Anak-anak lagi main di luar. Jadi saya sempat ngetik postingan tantangan #BPN30dayChallenge2018 buat hari ini. 


Sekarang saya mau goreng bala-bala alias bakwan. 

Sampai ketemu lagi!



(sumber keterangan seputar Madinah: republika.co.id)

7 comments :

  1. Huaahh... Ak blm pernah umroh. Pengen bgt pdhl. Doakan ak bisa k sana jg y mbaa

    ReplyDelete
  2. Masya Allah.. semoga aku dan suami bisa kesana juga aamiin

    ReplyDelete
  3. Wah, selama ini aku cuma lihat payunh-payung raksasa di TV. Indah sekali ya. Semoga bisa cepat kembali ke sana, amin 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya indi. pas buka tutup lebih cantik. sayang aku ga sempet lihat langsung.
      aamiin makasi buat doanya yaa :*

      Delete
  4. Makkah sama Madinah itu 2 kota yang sesuatu banget ya mbak...

    ReplyDelete

Mohon meninggalkan berkomentar yang sopan.
Komentar dengan link hidup akan saya hapus.

Terima kasih ^_^

Back to Top