Monday, February 12, 2018

Andai Waktu Bisa Berhenti di Usia 40 Tahun


Suka banget dengan tema #Posttematik yang ada di grup Kumpulan Emak Blogger (KEB), yaitu tentang usia 40 tahun. Meski sudah pernah menulis dengan tema serupa, saya bersemangat untuk menulis lagi dari sudut yang berbeda. Jika pada postingan ini berbau sponsored post dan di sana berbau curhat. Kali ini saya menulis spesial curhat buat KEB. Boleh yaa...

Usia saya saat ini 41 tahun lewat 6 bulan. Andai waktu bisa berhenti, saya ingin selamanya bisa berusia kepala empat seperti sekarang. Jujur, masa ini adalah masa yang paling membahagiakan dalam hidup saya. Jadi, pepatah happiness begins at fourty itu benar adanya.

Kenapa 40 tahun? Bukannya udah tuwir alias tua, Mak? Ya iya tentu saja usia 40 tahun nggak bisa dibilang masih unyu-unyu. Udah mau lewat masa dewasa. Usia 40 tahun itu siap menyongsong masa tua. Anggap saja, usia 40 tahun itu adalah masa persiapan ke usia setengah abad alias 50 tahun dan seterusnya sampai ajal menjemput. Entah sampai usia berapa saya diberi jatah usia oleh Allah SWT.


Kilas balik dulu, ya. Kenapa sih hidup di usia 40 tahun itu rasanya lebih adem? Emang di usia sebelumnya kurang adem ya? Yang namanya hidup itu pasti garing kalau adem melulu. Kudu ada gejolaknya. Naik turun, belok kanan belok kiri, muter-muter... lho kok jadi ngomongin jalanan hihi.

Masa anak-anak adalah masa paling ceria. Sayang, ini tidak berlaku buat saya. Waktu SD, saya sering menangis, menyalahkan diri sendiri terhadap situasi yang dihadapi. Bahkan pernah pengen bunuh diri (baru niat sih). Saya menjadi anak dengan pribadi tertutup, kurang bisa bergaul, dan pemurung. Saking pemurungnya dengan muka tertekuk, bahkan Mami (ibu saya) menjuluki saya sebagai 'japrut' alias cemberut.

Lanjut ke masa remaja yang jadi masa yang paling indah. Harusnya begitu. Tapi buat saya, ini masa yang berat, karena pencarian jati diri yang gelagapan. Berusaha berdamai dengan keadaan dan mencoba menatap masa depan. Saya mencari tahu jawaban dari 'keanehan' yang terjadi dalam diri saya selama kuliah di Bandung. Akhirnya... ketemu! Jawaban yang saya cari ketemu, sekaligus saya juga ketemu jodoh. Alhamdulillah.

Dunia yang sama sekali baru adalah setelah menikah di usia 27 tahun. Ada Bapa, panggilan untuk suami, di sisi saya. Hidup berdua di rantau. Wah, dunia begitu indah! Maunya sih terus berduaan, hehe. Tapi nggak lama berdua, saya bahagia bisa hidup bertiga bersama anak. Tahun berlalu, nambah lagi jadi hidup berempat, lalu berlima. We're so blessed!

Pada usia 30 tahun, kehidupan saya disibukkan oleh mengurus anak-anak. Kayaknya, pada masa itu nggak sempet mikirin diri sendiri. Semua demi anak. Demi keluarga. Bahagia? Ya teuteup bahagia atuh. Namanya juga ngurus anak sendiri. Meski riweuh dan capek, tubuh langsing adalah hasil sampingannya saat itu. Nggak percaya? Coba saja urus tiga anak laki-laki (anak kecil, batita, dan bayi) tanpa pembantu. Dijamin langsing... beneran!

Coba lihat foto berikut, kelihatan banget kalau saya nggak mikirin penampilan. Pakai baju yang asal nyaman aja (dan kancing depan pastinya). Kurang tidur karena menyusui, sudah pasti. Pokoknya kucel, kumel, dekil... hadeuuh!


Saya di usia 33 tahun bersama Bapa dan 3 boyz

Selanjutnya, kami kembali dari tanah rantau dan tinggal menetap di Bogor pada tahun 2011, yaitu ketika usia saya 35 tahun. Kami sekeluarga tinggal di rumah sendiri, plus ada asisten rumah tangga yang membantu di rumah. Nah, saat itu barulah saya bisa bebenah diri. Nggak bebenah banget sih. Tapi lumayan lah, penampilan saya berubah jadi nggak kucel-kucel amat (masih teuteup kucel dikit). 

Mulai hepi? Belum! Justru ini adalah saat yang berat. Sebuah ujian harus dijalani oleh saya dan Bapa. Kondisi ini sempat membuat rumah tangga kami jadi gonjang-ganjing dan ketentraman keluarga terganggu. Saya merasa tidak bisa fokus membesarkan 3 boyz (tiga anak saya) karena mental yang 'terganggu'. Hanya sabar dan ikhlas yang kami berdua panjatkan untuk tetap bertahan. 

Sempat limbung, saya merasa lelah dan ingin mengakhiri hidup agar Bapa dan 3 boyz bisa hidup tenang. Tepatnya pada tahun 2014, saat usia saya 38 tahun. Waktu itu, di kepala saya tidak ada jalan keluar lain yang terpikirkan selain mati. Saya ingin bunuh diri (lagi). Astaghfirullah. Untunglah saya sadar. Kondisi ini mirip seperti yang saya alami waktu masih kecil dulu. Saya yang berusia 38 tahun menjelma menjadi si Japrut, anak kecil yang kehilangan semangat hidup akibat ulah seseorang.


Si Japrut (kiri) dan saya di usia 38 tahun (kanan)

Untuk menjaga kewarasan, saya menenggelamkan diri dengan kesibukan di toko obat (sudah tutup) dan menulis blog. Saya sampai bikin tiga blog yang semuanya dimonetasi. Belajar dari sana-sini untuk membenahinya. Ada kebanggaan sendiri saat blog mulai menghasilkan uang. Berkat blog, kadar stress saya berkurang dan kepercayaan diri mulai pulih.


Setelah hari-hari berat penuh drama selama lima tahun lebih, Allah mengabulkan doa kami. Jalan keluar yang tidak diduga membebaskan kami dari ujian tersebut. Allahu Akbar! Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah!

Euforia ini masih terasa sampai sekarang. Saya sempat mager berkepanjangan karena kegirangan. Maklum, ini baru kejadian di bulan Oktober 2017. Boleh dibilang lebay, tapi inilah perasaan saya setelah ujian itu berakhir:

  • (*) Ibarat baru keluar dari terowongan gelap yang panjang, mata saya masih silau karena kaget melihat pemandangan yang cerah di luar terowongan.
  • (*) Ibarat hidup bersama anjing galak yang menggonggong setiap hari, di kepala saya masih bergaung suaranya. Ingat rasa sakit akan gigitan anjing membuat saya merinding. Belum lagi rasa takut digigit muncul setiap wajah anjing tersebut berkelebat. Maaf, saya nggak sopan pakai anjing sebagai kiasan karena nggak nemu hal lain yang bisa menggigit dan menggonggong selain anjing.
  • (*) Ibarat baru keluar dari kurungan, saya merasa seperti kuda liar yang menandak-nandak kegirangan melihat rumput yang hijau di depan mata.
Akhirnya... saya menyatakan diri merasa bahagia di usia 41 tahun! Buat saya, happiness begins (tepatnya) at 41. Karena pas umur 40 tahun saya masih di 'kerangkeng'. Senang? Aih, banget! Itulah sebabnya saya merasa nggak mau waktu berjalan. Maunya di-pause dan begini aja terus. Menikmati momen, itu yang saya lakukan saat ini.

Berikut ini adalah tiga alasan mengapa saya ingin waktu berhenti di usia 40 tahun dan apa saja yang (akan) dilakukan:

1. Lebih Banyak Waktu Luang untuk Diri Sendiri

Saat ini saya punya waktu luang lebih banyak dibandingkan waktu baru punya anak. Ya betul, anak-anak saya sudah bukan bayi lagi. Jadi, waktu riweuh jauh berkurang. Saya bisa menjahit aksesoris dan menjualnya (sekarang berhenti). Bisa nulis blog, ngebuzzer, dan jadi content writer. Bisa belajar dandan (walo nggak dipraktekin, hihi). Bisa pergi senam aerobik secara rutin. Lebih banyak waktu dihabiskan di dapur untuk memasak dan bikin bekal sekolah. Bisa ikut nongkrong bareng ibu-ibu sekolah. Ikut pengajian kelompok dan kegiatan yang berhubungan dengan pengajian. Wah, banyak ya!

Atas: bareng ibu-ibu kelas 1B. Bawah: bersama ibu-ibu pengajian

Yang ingin saya lakukan selanjutnya: belajar menjahit, memotret, dan berkebun.

2. Momen Emas

Buat para emak dengan anak kecil yang nempel terus 24 jam, just enjoy it. Masa itu nggak akan terulang. Jika mereka sudah besar nanti, nggak bakalan mereka nempel terus sama kita seharian. Selain nggak bisa digendong lagi, semakin gede mereka juga nggak mau dipeluk dan dicium (anak laki sih, nggak tahu kalau anak perempuan).

Ketiga anak laki-laki saya memang belum beranjak dewasa. Masih perlu bimbingan ibunya. Si sulung Aa  Dilshad sudah SMA kelas 10, Kk Rasyad kelas 5 SD, dan Dd Irsyad kelas 1 SD. Saya beruntung karena si bungsu masih mau diuleng-uleng, dipeluk, dan dicium. Sampai sekarang, saya masih menciumi ketiaknya setiap bangun pagi. Mood booster banget!
Cepet banget kalian tumbuh besar!

Berdasarkan pengalaman pribadi, masa anak-anak itu penting banget buat memori mereka di masa mendatang. Mau dikenang jadi ibu seperti apa? Lakukan itu sekarang! Momen emas ini tidak boleh dilewatkan. Dijamin bakal nyesel nantinya! Saya aja nyesel nggak punya memori bagus tentang masa kecil dan nggak mau 3 boyz bernasib serupa.

Yang saya lakukan: sebanyak mungkin memberi cinta untuk Bapa dan 3 boyz.

3. Bersyukur dan Lebih Tenang Menikmati Hidup

Di umur 40 tahun ini, pencapaian hidup saya sudah terpenuhi. Saya punya suami, anak-anak, rumah tempat berteduh, dan kehidupan yang tercukupi setiap hari. Yang paling penting, ujian berat sudah berhasil dilalui. Kini, saya sudah bahagia. Mau cari apa lagi? Tinggal menikmati hidup dengan tenang. Berharap bisa bahagia terus sampai akhir hayat nanti.

Yang saya lakukan: banyak bersyukur dan lebih giat beribadah (syukur2 dipanggil cepet buat naik haji).

Ingin lebih lama bersama mereka sampai ajal memisahkan

Sekian dulu curhatan dari saya, emak riweuh yang pada dasarnya memang selalu riweuh olangan. Masih teuteup kepingin menghentikan waktu, biar umur saya kepala empat terus. Kelak (kalau diberi umur panjang) jika saya berusia 50 tahun, situasinya tentu tidak akan seperti sekarang. Anak-anak sudah besar beneran. Saya masih ingin menikmati kebersamaan bareng mereka di rumah, sebelum mereka punya dunia sendiri di masa remaja dan menikah nanti.

Apakah saya takut menjadi tua? Tentu tidak! Seperti yang saya tulis di awal postingan, usia 40 itu adalah usia persiapan menuju masa tua. Jika semua keinginan yang saya ungkapkan di atas sudah dilaksanakan dengan baik, maka target saya akan tercapai. Mau tahu target saya apa? Happiness begins at 41 and looks gorgeus at 50! Aamiin. Doain ya!



12 comments :

  1. Bahagianya sudah bisa menemukan terangnya jalan setelah dari terowongan gelap ya mbak. Aku pun mulai merasakannya

    ReplyDelete
  2. Salah satu Dari sekian alasan takut adalah takut menjadi tua Dan berubah.tapi itu sunatullah..makasih mbaaa pncerahannya

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah....akhirnya.
    Sehat bahagia dan berkah selalu ya mami cantik nan kece^^

    ReplyDelete
  4. iya sih kebanyakan seteklah 40 tahun hidup sdh lebih mapan ya, jd kiat bisa upgrade diri sendiri menjadi bernmanfaat dan bisa punay me time sendiri

    ReplyDelete
  5. Waaahhh kebayang sih mba, 3anak laki, umurnya juga ga jauh2 amat yaaa :D. Memang pasti kurus itu :D. Moga2 di umur 40 nanti aku ttp bisa jd ortu yg gaul buat anak2, ttp bisa traveling, dan ttp berani doing something extreme :D.

    ReplyDelete
  6. amiii .. ikutan seneng saya mak �� berharap nanti bisa seperti itu juga ��

    ReplyDelete
  7. Sama mak Inna, daku juga kembali hidup di usia 40 tahun, dan sekarang tinggal menikmati dan menjalani apa yang sudah diterima :)

    ReplyDelete
  8. alhamdulilah akhirnya menemukan titik terangnya :)

    ReplyDelete
  9. Mbak Inna, peluuuuk. Seneng banget ya bisa menemukan titik terang dan sudah tenang dan nyaman lagi. Dulu, akupun terkenal dengan anak yang cemberut.

    ReplyDelete
  10. Ikut senengggg mbk inna.
    Bahagia selalu bwt mbk inna sekeluarga amiinn

    ReplyDelete
  11. Saya sekarang sedang menikmati keriwehan itu mak. Padahal cuma 2 udah bikin BB turun sekilo (mungkin). Apalagi kalau 3 cowok semua kayak mak Inna, pasti BB kembali kayak prawan dulu ehehe. #ngarep.

    ReplyDelete
  12. Sehat sehat ya mba Ina dan keluarga, menikmati waktu luang sendiri juga emang penting. Dengan begitu bisa membuat hidup lebih tenang juga ya

    ReplyDelete

Mohon meninggalkan berkomentar yang sopan.
Komentar dengan link hidup akan saya hapus.

Terima kasih ^_^

Back to Top