Monday, July 10, 2017

Sukses Membuat Hidangan Lebaran Komplit Saat Puasa dan Tanpa Bantuan ART? Ini Tipsnya!



Halo semua! Apa kabar? 

Mumpung masih suasana Lebaran, saya ingin mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 Hijriah. Mohon maaf lahir batin, ya. Cerita Lebaran tahun 2017 ini terus terang berbeda dengan dengan Lebaran selama lima tahun sebelumnya karena ada sebuah peristiwa penting. Alhamdulillah, Allah Maha Mendengar semua curhatan saya dan mengabulkannya agar kami bisa melanjutkan hidup seperti keluarga normal lainnya. Semoga situasi ini bisa berlangsung selamanya, aamiin.

  Jadi... Lebaran kali ini spesial ya? Banget! Nah, untuk merayakan kali pertama Lebaran dengan suasana istimewa ini, saya memasak hidangan Lebaran yang lebih komplit dari tahun sebelumnya! Biasanya, tiap tahun saya pasti menyempatkan diri untuk memasak hidangan Lebaran seadanya, sesempetnya, dan seketenagaannya... (halah, bahasa apa itu).

   Masak hidangan Lebaran sendiri? Ulangi: sendirian? Apa bisa? Itulah yang ada di benak saya saat pertama kali Bapa meminta saya untuk memasak rendang dan teman-temannya sehari sebelum Hari Raya Idul Fitri. Saat itu sekitar tahun 2004 atau 2005 ya, saya lupa. Kebetulan kami tidak mudik karena baru saja terbang ke Bogor beberapa bulan sebelumnya. Hemat biaya. Meskipun saat itu baru punya anak satu dan tiket Denpasar - Jakarta harganya sekitar 1 - 1,5 juta per orang. Lumayan mencekik buat ukuran keluarga kami saat itu.

  Memasak sendiri hidangan Lebaran belum pernah terpikir oleh saya sebelumnya. Maklum, waktu masih gadis, Mami saya malas riweuh dengan memesan aneka hidangan Lebaran pada saudara dekat rumah. Saat baru menikah, saya dimanjakan Mamah mertua (sekarang sudah almarhum) dengan aneka hidangan Lebaran yang sudah tersedia di meja. Ketika saya mau membantu malah dilarang, alasannya karena saya baru mendarat dari pesawat atau saya disuruh memegang anak saja daripada membantu di dapur. Duh, Mamah...

  Balik lagi ke momen perdana memasak hidangan Lebaran di Denpasar Bali. Jelang Lebaran, tentu saja asisten rumah tangga (ART) sudah meliburkan diri. Waktu tinggal di Denpasar, saya beneran nggak punya ART. Maka momen pertama memasak hidangan Lebaran memang tanpa bantuan ART sama sekali. Tapi saya nggak sendirian, tentu saja ada suami tercinta yang ikut bantu memasak. "Bantuin aku masak rendang," sahutku. Dan Bapa setuju dengan meninggalkan pekerjaannya saat istirahat makan siang hanya untuk membantu saya mengaduk rendang lalu kembali lagi ke kantor.

   Tantangan memasak hidangan Lebaran selain tanpa bantuan ART adalah kita sedang dalam kondisi puasa. Selain tidak bisa mencicipi makanan secara langsung, kondisi fisik memang lebih lemas karena lapar. Jadi, saat memasak harus dalam kondisi tubuh yang prima plus tahan banting dan tahan godaaan (dilarang kabita alias kepingin nyicip makanan ya, hehe).

   Tantangan lainnya adalah punya anak batita yang super aktif! Nah lho, gimana bisa masak karena kita dilarang meleng demi keselamatan sang bocah. Dalam kegiatan masak sehari-hari pun saya sering berhenti masak untuk mengecek apakah si Aa Dilshad dalam kondisi 'aman' atau tidak. Pernah lho, saya tinggal masak tau-tahu Aa udah bergelimang pasir di halaman depan. Atau ujug-ujug mengencingi satu tumpukan seprai di lemari (hiks, kebayang kan, saya harus mencucinya lagi). Yah begitulah. Riweuh yak ^_^ 

  Tapi Mak...sekarang kan 3boyz sudah pada gede. Nggak riweuh lagi dong? Alhamdulillah, misi memasak hidangan Lebaran komplit ini bisa terealisasi berkat bantuan mereka. Mumpung sudah pada gede, saya manfaatkan tenaga mereka untuk membantu saya di dapur. Tentu saja bukan tugas masak yang berat. Kegemaran boyz adalah meremas-remas kelapa parut untuk dijadikan santan atau memotong-motong sayuran. Lumayan, kan. Oia, jangan lupa saat mereka sedang menggunakan pisau, tetap diawasi ya!

   Sejak Mamah berpulang, tidak ada lagi hidangan Lebaran lezat di rumah Ciapus. Tidak ada lagi serantang bawaan makanan dari Nenek untuk cucu-cucunya. Sedih ya. Jadi, mulai tahun 2012 saya mulai rutin memasak hidangan Lebaran sendiri. Cukup untuk konsumsi keluarga saya saja. Menunya adalah: rendang, opor ayam, sayur pepaya muda dan samba goreng kentang. Itu saja. Ketupat biasanya memesan pada saudara Bapa di Cibeureum, yaitu adik Mamah alias bibi dari Bapa.

   Berhubung kondisi fisik Bibi mulai menurun, tahun ini Bapa meminta saya untuk membuat ketupat sendiri. Apa???? Bikin ketupat juga? Nah lho...bisa nggak ya? Bikin ketupat itu kan prosesnya paaanjaaang dan laaamaaa... Biasanya orang-orang bikin ketupat pakai kayu bakar. Lha ini mau bikin ketupat pakai kompor gas? Are we okay? Wkwkwk lebay ah...

   Etapi beneran, saya buta banget soal bikin ketupat. Kapan hari pernah sih, nyoba bikin ketupat pakai panci presto. Hasilnya gagal karena ketupatnya benyek. Sejak itu, saya males bikin ketupat lagi. Bapa lebih berpengalaman soal ketupat karena sejak kecil sering membantu Mamah membuat ketupat. Jadi, urusan ketupat saya serahkan pada Bapa saja. Soalnya saya mah riweuh lagi pegang masakan yang lain, hehehe.

   Sebelum memasak pada H-1 Lebaran, belanja bahan makanan dulu dong. Jelang Lebaran, banyak tukang sayur yang sudah mudik. Jadi, carilah tukang sayur yang masih tersisa untuk bisa diandalkan belanja. Pesan bahan makanan kalau bisa dari seminggu sebelum Lebaran, hehe. Kurang puas belanja di tukang sayur? Belanja di pasar saja! Lebih mantep! Ehm, kalau saya mah termasuk yang malas ke pasar karena jauh, capek, becek, nggak ada ojek...

Tips berbelanja bahan makanan untuk masakan Lebaran:
  1. Mengantisipasi harga yang meroket jelang Lebaran, belilah bahan bumbu jauh-jauh hari sebelumnya. Saya sudah menyetok bawang merah, bawang putih, dan cabai seminggu sebelumnya. Bahkan saya punya 4 papan petai sejak minggu kedua puasa dari pemberian teman kantor Bapa. Lumayan, nabung pete. 
  2. Pergi ke pasar pada pagi hari untuk berbelanja. Jika pergi pada siang hari, udara panas dan bahan makanan banyak yang sudah tidak segar lagi. Apalagi nanti kan capek, lagi puasa malah panas-panasan ke pasar, hehe. 
  3. Atau bisa juga ke pasar yang buka pada sore hari. Namun waktunya berdekatan dengan persiapan buka puasa. Bisa disiasati dengan menyiapkan dulu keperluan untuk buka puasa sebelum ke pasar, jadi saat pulang bisa mengolahnya dengan cepat. Atau sudah mematanggkannya sekalian sebelum pergi ke pasar. Biar nggak riweuh gitu lho! 
  4. Manfaatkan promo diskon di supermarket atau hipermarket. Saya membeli daging saat aa promo di sebuah supermarket. Lumayan lebih murah dari harga pasar dan bukan berupa daging beku. Meski harus berjuang dengan antrian yang lumayan, alhamdulillah saya kebagian daging promo tersebut. 
  5. Pesan bahan makanan ke tukang sayur terdekat. Pastikan pesanan kita sudah tercatat dengan baik ya. Jangan sampai pas mau ambil belanjaan, si Mamang atau Mbak sayur malah lupa! Waktu memesan tergantung pada sang empunya warung. Ada yang sudah open po dari H-7 lho. Yang pasti, baru pesan pada H-1 adalah kesalahan. Lha masaknya kapan? H-1 itu waktunya masak lho! 
  6. Sesuaikan dengan kemampuan memasak. Jika tidak mampu memasak rendang, ya jangan bikin rendang. Bisa diganti dengan semur. 
  7. Sesuaikan dengan kondisi keuangan. Saya lihat (terutama di kampung), banyak yang memaksakan diri untuk membeli daging (bahkan sampai berhutang). Padahal. Hari Raya Idul Fitri tidak harus identik dengan bermewah-mewah, kesucian hati merayakan hari kemenangan adalah makna yang sebenarnya.

  Bahan makanan sudah lengkap. Okede...waktunya memasak! Are you ready?! 

Berikut tips memasak hidangan Lebaran sendiri:
  1. Membuat bumbu halus beberapa hari sebelumnya dengan cara diblender, dioseng, lalu simpan di wadah tertutup di dalam kulkas. Jadi ketika memasak tidak perlu menumbuk bumbu lagi.
  2. Memastikan kelengkapan bahan makanan sebelum memasak. Jangan sampai ketika proses memasak tengah berlangsung, eh ada bahan yang kurang. Masak jadi tertunda karena kita harus pergi ke warung. Itu juga kalau yang dicari ketemu. Kalau sudah kehabisan gimana? Pusing pala emakk...
  3. Masak terlebih dahulu hidangan yang paling sulit atau yang paling lama proses memasaknya. Dalam hal ini saya memasak rendang dan ketupat terlebih dahulu. Ketupat saya pasrahkan pada Bapa dan Dd Irsyad yang memasukkan beras ke dalam cangkang ketupat. Sambil mengolah rendang, saya juga ikut mengisikan ketupat.
  4. Memanfaatkan bala bantuan, yaitu anak-anak dan suami. Bapa bertugas mengurusi ketupat dan memotong buah pepaya muda. 3 boyz memeras santan dan memotong kentang. kami saling bahu-membahu. Saya juga ikut mengawasi panci ketupat agar airnya jangan sampai habis dengan bolak-balik menambahkan air ke dalam panci. Boyz kadang ikut sesekali mengaduk rendang. Jadilah tim masak yang kompak!
  5. Jangan lupa istirahat. Dalam keadaan puasa, tentu saja kita jadi cepat lelah. Bikin rendang itu bikin pegel, bo! Saya menaruh kursi kecil di depan kompor. Jadi nggak lemes karena berdiri terus saat mengaduk rendang.
  6. Mencicipi hidangan setelah buka puasa. Takaran bumbu saat memasak memang sudah dipersiapkan. Tapi nggak sah kalau dicicipi pas lagi puasa. Setelah berbuka puasa, cicipi semua hidangan. Biasanya sih kurang garam sedikit. Tinggal tambahkan garam, hangatkan sebentar sambil diaduk rata. Kalau kurang bumbu lain gimana? Ya tambahkan saja kalau bumbunya masih ada. Jangan lupa ditumis dulu bumbunya sebelum dicampurkan ke dalam masakan, ya.
  7. Jangan merasa terbebani saat memasak, ya. Duh, riweuh amat sih mau masak-masak begini! Eits, hati yang dongkol ngedumel itu tanda bahwa kita tidak ikhlas mengerjakan sesuatu hal. Anggap saja ini ibadah. Saat puasa berjuang memasak hidangan istimewa untuk keluarga tercinta. Reaksi mereka saat mencicipi semua masakan itu akan menghapus segala lelah, percayalah.
  Gimana? Sudah pada mateng kan? Mana... mana? Ini diaa hidangan lebaran komplit ala pasukan riweuh di dapur ngebut:

1. Ketupat

Ketupat ini dimasak selama 6 jam dengan mengunakan kompor gas. Dari pukul 9 pagi sampai pukul 3 sore. Selama dimasak, ketupat harus terendam air. Jadi, saya dan Bapa bolak-balik menambahkan air kedalam panci. Ketupat matang dengan kepadatan yang pas! Kuncinya adalah mengisi beras 3/4 bagian saja. Ada ketupat yang gagal karena bocor akibat terlalu lembek. Kayaknya sih itu ketupat yang diisi oleh Dd Irsyad, hehe.


Ketupat sudah matang!

2. Rendang

Saya membuat rendang dari 2,5 kilogram daging sapi. Tumben bikin banyak. Niatnya memang untuk dibagikan ke kedua orangtua say yang sudah hidup terpisah. Setelah matang, rendang yang sudah didinginkan dikemas dalam plastik Dan ditaruh di freezer. Lumayan, saya menyimoan 4 kantong plastik is rendang. Dua buat stok pribadi. Lumayan buat kapan-kapan kalau mau makan rendang tinggal dikeluarin aja dari freezer. Rendang beku ini bisa awet tiga sampai empat bulan, lho!

Ini rendangku, mana rendangmu?

3. Opor ayam   

1 kg ayam mentah disulap menjadi sewajan besar opor ayam yang nikmat. Tahun sebelumnya, saya membuat opor ayam dari ayam kampung. Setahun sekali bikin opor ayam kampung. Bermewa-mewah setahun sekali makan opor ayam kampung ceritanya, hehe. Tahun ini saya tidak membeli ayam kampung karena warung sayur langganan saya tutup (biasanya dia tidak pernah tutup pas Lebaran). Saya malas memesan ke warung sayur yang lain. Plus lagi males juga masak ayam kampung yang prosenya lebih lama itu. Opor ayam pakai ayam negeri yang ukurannya gede-gede ini juga enak, kok!


Opor ayam

4. Sayur Pepaya Muda

Ini yang wajib ada di meja makan saat Lebaran! Ada juga yang menyebutnya sayur godog pepaya. Tanpa sayur ini, ketupat nggak ada temennya. Bisa sih ketupat pakai kuah opor. Tapi buat pencinta pedas dan sayuran. lebih nendang makan ketupat pakai sayur dengan kuah berwarna merah ini. Kadang saya suka mencampurnya dengan kuah opor juga saat makan ketupat dengan sayur pepaya. Enak juga karena rasanya jadi bercampur, hehe.
Sayur pepaya muda

5. Sambel Goreng Kentang

Paling enak bikin sambel goreng kentang komplit dengan irisan hati sapi. Berhubung kolestrol saya dan Bapa mulai menunjukkan angka yang tinggi, jadi saya batal membeli hati sapi. Lagipula, boyz kurang suka hati sapi. Nanti buntutnya saya dan Bapa yang ngabisin. Nah lho! Etapi meski nggak pakai hati sapi, sambel goreng ini teuteup enak. Apalagi pelengkapnya adalah pete gratisan dari teman kantor Bapa. Pete saya simpan di kulkas dan baru saya gunakan belasan hari kemudian. Masih aman kok. Walau kulitnya sudah menghitam dan peot, tapi isinya masih oke dan segar. Hemat biaya banget pokoknya mah.

Sembel goreng kentang

  Gimana? Asik banget kan sekarang hidangan lebarannya sudah komplit! Mulai memasak hidangan Lebaran sendiri ini saya anggap sebagai pelatihan. Lho kok pelatihan? Iya dong! Pada masa mendatang nanti, saya akan memasak lebih banyak dan lebih komplit untuk disajikan kepada anak cucu. Doain saya masih sehat dan diberi umur panjang ya, aamiin. Terinspirasi dari almarhum Mamah mertua, saya ingin menjadi nenek sekaligus ibu mertua yang baik untuk menantu dan para cucu nanti. Dicintai dan selalu dirindukan kehadirannya oleh mereka. Ah indahnya...




10 comments :

  1. Saya termasuk yang akhirnya bisa bikin hidangan khas lebaran karena kepepet. Jauh dari ortu di Semarang, mau mudik tiap tahun pun mahal

    Mau gak mau akhirnya malah bisa. Eh malah tahun ini beli panci besar buat bikin opor & ketupat, yang lama udah gak memadai lagi

    Salam kenal newbie dari Medan, mb 😄😄

    ReplyDelete
    Replies
    1. lama2 bisa ya mba dila :)
      salam kenal kembali dari bogor

      Delete
  2. baca ini bikin nyadar aku belum makan ketupat selama lebaran. Waduh, kemane aje...

    ReplyDelete
  3. Yah itulah siklus kehidupan mbak, suatu saat nanti kita juga akan menjadi tua dan anak-anak akan menjadi orang tua

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah mudah2an kesampaian menyaksikan anak cucu tumbuh besar :)

      Delete
  4. Wah tips dan menunya lengkapppp amat makkk, jadi laper tiba2 pas baca, hehe.. Amin, amin panjang umur dan selalu dinantikan anak cucu ya mak :* Btw, makasi udh ikutan GA blog ku mak, gudlak^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih sudah menjadikan tulisan ini juara favorit, prita :*
      sukses terus buat dunia gairah yaaa

      Delete
  5. Wah... Menu wajib lebaran yang paling menggoda opor ayam, makannya dengan ketupat yang dibuat dari daun kelapa mantap... hehe

    ReplyDelete

Mohon meninggalkan berkomentar yang sopan.
Komentar dengan link hidup akan saya hapus.

Terima kasih ^_^

Back to Top