Monday, December 22, 2014

Embah Arti. Sosok Paling Berarti dalam Hidupku




Ibu Arti, begitu tetangga biasa memanggil beliau. Sebuah nama yang singkat tertera di KTP wanita kelahiran 2 Februari 1923. Kami sekeluarga biasa memanggil beliau Embah. Kerasnya hidup yang dijalani terlihat dari guratan wajahnya yang dipenuhi keriput. Dulu, Embah sempat tinggal serumah bersama keluarga kami. Saya lupa berapa lama Embah tinggal karena saat itu saya masih kecil.


  Embah pindah dari rumah kami sekitar tahun 1981. Anak bungsu Embah membelikan beliau sebuah rumah. Embah adalah pensiunan pegawai negeri Departemen Kesehatan. Rumah tersebut semula ditawarkan hanya untuk karyawan kantor Depkes. Sejak saat itu, Embah tinggal sendiri bersama seorang pembantu rumah tangga di rumah BTN yang mungil dan nyaman.

  Embah tidak mempunyai suami. Beliau sudah menjadi janda saat sedang hamil anak ketiga. Anak pertama Embah, laki-laki, meninggal di usia balita karena demam tinggi. Sedangkan anak kedua, perempuan, diambil dan dirawat oleh orangtua mantan suaminya. Mantan suami Embah menikah lagi dan mempunyai enam anak. Sejak bercerai, hidup Embah langsung berubah. Beliau bekerja membanting tulang untuk membesarkan anak ketiganya seorang diri. Kerja keras dan perjuangan Embah tidak sia-sia. Sang anak yang dibesarkan dengan keringat dan air mata tersebut, bisa bersekolah sampai kuliah di ITB, lalu menjadi pengusaha sukses.

  Bulan Juli tahun 1991. Saat itu usiaku hampir 15 tahun. Aku merasa waktu itu adalah saat yang paling membahagiakan. Aku pergi ke Jakarta! Meningggalkan rumah orangtua di Cikampek untuk melanjutkan sekolah SMA. Aku tinggal di Embah yang terletak di perbatasan Jakarta-Bekasi.

  Aku bahagia sekali bisa tinggal bersama Embah. Sosoknya yang ceria membuat kami selalu tertawa bersama. Aku sering tidur di kamar Embah, lalu kami bercerita apa saja sepanjang malam. Aku paling senang mendengar cerita beliau tentang masa perjuangan sebelum negara kita merdeka. Embah beruntung, beliau dan saudara-saudaranya bisa bersekolah tinggi bersama anak-anak Belanda. Ilmu beliau itu sangat berguna ketika mengalami masa sulit mencari nafkah. Embah sempat menjadi guru bagi anak-anak Jepang. Bahasa Belandanya juga sangat baik. Bahkan di usia senja, beliau masih fasih berbahasa Belanda dan Jepang.

  Sedangkan cerita yang paling Embah suka dariku adalah tentang teman-temanku. Bahkan teman-temanku bilang Embah itu funky! Mereka menyukai Embah. Ketika aku mempunyai tambatan hati, Embah selalu penasaran tentang hubungan kami berdua. Saat waktu apel tiba, Embah pun bisa tiba-tiba berubah menjadi satpam! Ah Embah... 

  Bersama Embah, aku merasa nyaman. Sebuah perasaan yang sulit aku rasakan sebelumnya. Embah adalah orang pertama yang menyayangiku sepenuh hati. Embah seolah bisa memahami isi hatiku. Mengerti perasaanku. Bahkan, Embah adalah orang pertama yang menangisi nasib kurang baik yang menimpaku. Aku sudah letih menangis. Di masa mendatang, dua puluh tahun kemudian, ada dua orang lagi yang juga menangis untukku. Keduanya tidak punya ikatan darah denganku. Namun saat melihat mereka menangis, aku jadi teringat pada Embah.

  Dibalik keceriaannya, ada duka mendalam di hati Embah. Hubungan Embah dan anak keduanya tidak berjalan dengan mulus. Suatu ketika, aku sempat mendengar pernyataan tidak mengenakkan tentang perasaan anak Embah tersebut kepada ibunya. Embah begitu terpukul ketika aku sampaikan pernyataan tersebut. Beliau terdiam. Ketika sedang shalat, aku lihat beliau menangis di atas sajadahnya. Sejak itu, aku berjanji tidak akan menyampaikan lagi hal-hal yang bisa menyakiti hatinya. Aku sangat menyesal. Maafkan aku, Mbah.

  Tiga tahun berlalu begitu cepat. Aku lulus SMA lalu pergi ke Bandung untuk melanjutkan kuliah di Unpad. Setiap ada waktu senggang, aku selalu menyempatkan diri mengunjungi Embah. Kadang naik bis, kadang naik kereta dari Bandung. Jika tidak sempat main, aku sering menelpon Embah untuk sekedar melepas kangen.

  Setelah aku lulus kuliah, aku menganggur. Aku sengaja mengambil beberapa kursus agar bisa tinggal bersama Embah. Ketika mendapat pekerjaan di kawasan Sudirman Jakarta, aku tetap tinggal bersama beliau. Berangkat pagi pulang malam kulakukan setiap hari. Pernah suatu hari aku terlambat pulang karena nongkrong bersama teman sepulang kantor, Embah marah. Rupanya beliau khawatir ada apa-apa terjadi denganku. Salahku juga. Aku tidak menelpon Embah sebelumnya untuk mengabarkan bahwa aku pulang terlambat. Aku segera minta maaf karena telah membuatnya cemas.

  Kemudian aku menikah. Aku berhenti bekerja untuk menyusul suami ke Semarang. Selanjutnya, aku kerap berpindah tempat tinggal karena pekerjaan suami. Meski merantau ke berbagai daerah nusantara, setiap pulang kampung untuk merayakan Idul Fitri, aku selalu datang mengunjungi Embah. Selama merantau, aku tidak pernah absen menelpon Embah setiap beberapa hari sekali. Kangen sekali mendengar suara dan candanya sambil bertukar kabar tentang keadaan kami berdua.

  Sayang, seiring bertambahnya waktu kondisi kesehatan Embah semakin menurun. Seorang suster mendampinginya setiap saat. Beliau pun sering bolak-balik masuk rumah sakit. Tidak ada penyakit serius yang diderita. Hanya beberapa penyakit khas orang yang sudah lanjut usia. Cepat lelah, darah rendah, sakit maag, dan sesak napas.

  Embah mulai pikun. Beliau bahkan tidak mengenaliku lagi! Ucapannya juga sering diulang-ulang. Saat berkunjung, anak pertamaku yang saat itu berusia dua tahun pun bolak-balik ditanya, “Anak siapa ini?” Ah, aku sedih sekali.

  Pertemuan berikutnya setiap Lebaran masih sama. Beliau makin pikun dan sering sekali tertidur. Tidak tega mengganggu istirahatnya, aku akhirnya cepat-cepat pamit pulang. Lagipula, Embah betul-betul sudah tidak bisa diajak mengobrol lagi. Ah Embah...aku kangen sekali ingin bercanda seperti dulu.

  Aku kembali melanjutkan kehidupanku di tanah rantau bersama keluarga kecilku. Sesekali aku menelpon rumah Embah, berbicara pada suster untuk menanyakan kabar kesehatan beliau. Embah sudah todak bisa berbicara di telepon. Aku hanya menyampaikan salamku untuk Embah lewat suster.

   Tahun 2010. Aku sudah menjadi ibu dari dua anak laki-laki dan sedang menanti kelahiran anak ketiga. Kabar kesehatan Embah yang kian memburuk memang sudah aku ketahui. Beliau dilarikan ke rumah sakit dan mengalami masa kritis. Sanak keluarga juga sudah berkumpul untuk mendoakan beliau. 

  Hingga suatu sore, sebuah telepon mengabarkan bahwa Embah sudah meninggal. Innalillahi wa innailahi rojiun. Aku sangat sedih. Kuberitahu suami lewat telepon mengenai kabar tersebut. Dari kantor, suamiku bilang jika aku ingin pulang ke Jakarta maka beliau akan mencarikan tiket pesawat untukku. Aku bimbang.

  Kehamilanku sudah berusia 8 bulan. Jika aku pulang, aku pasti akan tetap di kampung halaman sampai melahirkan. Aku tidak mau melahirkan tanpa didampingi suami. Kuputuskan untuk tidak pulang menemui Embah untuk yang terakhir kalinya. Aku hanya bisa mengirimkan doa dari jauh, dari pulau Kalimantan tempat kami berada.


  Selamat tinggal, Embah. Semoga Embah mendapatkan tempat tebaik di sisi-Nya. Selamat jalan, nenekku tersayang.

5 comments:

  1. si embah memang selalu memiliki tempat khusus di hati ya mak...semoga Embah sudah tenang di sana :)..cheers..

    ReplyDelete
  2. Pengen punya Embah kayak gini mak :) pengen tau rasanya dimanjain kakek nenek

    Dari lahir saya udah nggak punya kakek dan nenek, waktu menikah kedua Orangtua saya emang udah yatim piatu mak...

    ReplyDelete
  3. sosok mbah Arti mengingatkan saya pada nenek dan ibunya nenek yang waktu saya kecil sempat saya sering main dan tinggal bersama belaiu-beliau. Di waktu terakhirnya, nenek juga kadang mengenal saya kadang nggak dan sempat mau kasih cincin ke saya, mungkin karena saking sayangnya. tp sama ibu saya cincinnya dikembalikan :)

    ReplyDelete
  4. semoga mbah Arti mendapatkan tempat terbaik dari Nya..mbah Arti merupakan sosok wanita yg hebat :)

    ReplyDelete
  5. Aku jd mbahku mak... beliau berpulang saar aku baru kls 2 SD. Tapi ingatan ttg beliau...begitu jelas dlm ingatanku.

    ReplyDelete

Mohon meninggalkan berkomentar yang sopan.
Komentar dengan link hidup akan saya hapus.

Terima kasih ^_^