Monday, October 21, 2013

Pindah



Pindah. Betapa indahnya saat kata itu terdengar di telinga saya. Membayangkan tempat yang baru dan tantangan yang akan kami sekeluarga temui kelak di sana. Dulu, belum ada Mbah Google untuk tempat bertanya. Semua bayangan itu hanya perkiraan semata. Ada sebuah rasa yang membuncah. Seperti suatu semangat! Semangat menempuh hidup baru! Adrenalin seolah terpacu! Wow, rasanya menyenangkan! 
     
Pindah kok seneng banget? Bukannya malah repot? Repot pindahan sudah menjadi kebiasaan bagi keluarga kami. Mengepak barang, mengurus sendiri surat pindah sekolah, gotong sana, gotong sini. Sampai di rumah baru, sibuk bongkar dus sambil lirik tetangga di sekeliling dan langung wisata kuliner! Oia, saya pernah menulis tentang tips pindahan rumah di sini dan di sana.

  Sayang, saya sudah tidak bisa menikmati kata 'pindah' itu lagi. Sejak berhenti dari hudup merantau dan berpindah-pindah, saya berpisah dengan kata 'pindah' ini. Ya, kami sekeluarga sudah menetap di kampung halaman sekarang. Jadi, kenapa bikin judul tentang pindah? Mau pindah ke mana? Pindah yang akan saya ceritakan sekarang bukan pindah rumah, melainkan pindah toko. Keseruannya hampir sama, lho. Simak ceritanya, ya!

   Sudah lama saya mengincar toko yang selalu tutup di ujung deretan pertokoan dekat gerbang komplek itu. Sayang, sang pemilik bilang, orang yang mengontrak toko itu selalu membayar meskipun tokonya hampir tidak pernah buka. Beruntung, tidak lama kemudian saya mendapatkan lokasi yang tidak jauh dari toko tersebut. Saya dan suami akhirnya bisa mempunyai tempat untuk usaha toko obat kecil-kecilan ini.

   Sekian waktu berselang, perkembangan usaha kami terasa berjalan lambat karena sesuatu hal. Saya sadar, salah posisi toko yang menyebabkan demikian. Terpikir untuk pindah dan tidak meneruskan kontrakan, lalu membuka toko di tempat lain. Tapi, mau pindah ke mana? Lebih jauh dari tempat yang sekarang, rasanya sayang, karena jadi semakin jauh dari rumah. Saya masih naksir toko yang pernah saya incar dulu. Saya lalu meminta tolong pada tetangga toko tersebut, untuk segera memberi informasi jika toko itu sudah berakhir masa kontraknya.

  Sambil terus berjualan, saya mencari lokasi lain yang lebih cocok. Sayang, semuanya tidak ada yang pas. Sampai suatu hari saya mendengar kabar dari informan terpercaya saya itu, yaitu sang tetangga toko yang saya incar dulu, bahwa kontrakan toko tersebut sudah berakhir! Tanpa pikir panjang, saya langsung menghubungi pemilik toko. Alhamdulillah, barangkali ini yang namanya jodoh, saya akhirnya bisa pindah ke tempat yang sudah saya idamkan!

  Jika ingin membuka usaha, jangan mengharapkan akan dapat untung banyak dalam waktu singkat. Semua butuh proses. Jujur, selama membuka usaha toko obat selama setahun setengah ini, kami belum balik modal. Keuntungan memang ada, namun kerap terpotong oleh biaya operasional, hehe. Anggap saja semua biaya yang sudah dikeluarkan adalah 'ongkos' kita untuk belajar berbisnis. Jadi, rugi sedikit tidak masalah. Sebagai gantinya, banyak ilmu dan pelajaran yang bisa didapat.

  Lantas, toko yang belum habis masa kontraknya bagaimana? Ya di-over kontrak saja. Masih sisa 6 bulan lagi. Andaikan tidak ada yang mau mengontrak toko lama saya, yah memang nasib. Rugi memang. Namanya juga lagi belajar. Mudah-mudahan sih, ada yang mau. Kemarin sudah ada yang menawar. Tapi saya cari yang serius mau ngontrak saja, bukan calo.

  Selanjutnya... pindahan! Pertama kami membereskan toko baru, disapu dan dipel. Lalu semua barang dagangan diturunkan dari etalase, dimasukkan ke dalam dus. Kaca etalase diikat dengan tali rapia agar tidak telepas saat digotong. Yang gotong siapa? Ada abang-abang ojek setempat yang biasa mangkal di dekat toko.  

1) kaca diikat tali rapia supaya tidak lepas
2) siap2 gotong, tunggu aba2 biar kompak
3) etalase digotong berempat. Hati2, Bang!
  Duh, deg-degan juga melihat proses mengangkut etalase ini. Nggak tega ngikutinnya, saya menunggu di toko lama saja. Sementara Bapa dan Mbak Titin (penjaga toko kami) sudah siap di toko yang baru. Setelah semua etalase terangkut, baru saya menyusul ke sana. Saya kebetulan membawa Dd Irsyad. Capek juga mondar-mandir antara toko lama dan toko baru sambil membawa Dd ditengah cuaca yang cukup terik itu.

  Mengatur posisi etalase. Cara memasukkan etalase yang kecil sih gampang. Yang gede ini, lho. Lumayan susah juga. Untung para lelaki ini cerdik juga. Mereka memakai keset dan lap untuk membantu menggeser etalase. Karena kain penyangga kurang, mereka bahkan rela mengorbankan sendal mereka sampai gepeng, hehe

Menggeser etalase
   Berkat bantuan abang-abang ojek yang berotot kawat tulang besi ini, proses pindahan toko berlangsung cepat. Tetangga toko lama juga sempat membantu sebentar, namun segera saya susul karena dicari pembeli yang minta dibuatkan mi ayam di warungnya.

1) bersiap pindah dari toko lama
2) toko baru setalah ditempati
3) toko baru saat masih kosong
  Alhamdulillah, terima kasih, ya Allah. Doa dan harapan saya terkabul untuk dapat menempati posisi toko impian. Semoga dengan menempati lokasi baru ini, harapan-harapan indah dan rencana-rencana besar untuk toko obat kami ini bisa terwujud dengan sukses. Aamiin.

7 comments:

  1. Selamat dengan tempat barunya.. semoga makin laris dan berkah ^_^

    ReplyDelete
  2. aamiin...makasih doanya, Bunda Niken :)

    ReplyDelete
  3. Mudah2an lancar ya mak usahanya di tempat yang baru :)

    ReplyDelete
  4. Jadi ingat waktu pindahan juga dulu.. :)
    Memang keset kaki itu berguna sekali Mak buat geser-geser etalase.

    ReplyDelete
  5. Sy baru tahu pake keset buat gesernya, Mak :D
    Dulu waktu pesen etalase, geser etalase sama tukangnya pake kayak 'ceplokan' yang nempel di kacanya. Kuat juga tu alat, stl posisi pas, lngsung dicopot deh

    ReplyDelete
  6. pindah lapak y mbak
    semoga makin laris y mbak
    Oa mbak dtunggu follow back-nya y

    ReplyDelete

Mohon meninggalkan berkomentar yang sopan.
Komentar dengan link hidup akan saya hapus.

Terima kasih ^_^