Wednesday, November 20, 2019

Punya anak laki-laki? Bersiap untuk jantungan, ya!



Punya anak laki-laki? Bersiap untuk jantungan, ya!

Dulu saya kurang paham dengan celetukan teman tersebut. Setelah merasakan sendiri punya tiga anak laki-laki, barulah saya paham maksudnya. Anak laki-laki berbeda dengan anak perempuan, itu pasti. Mereka lebih aktif secara fisik. Dan ini dia nih, yang bisa bikin kita sebagai orang tua kena sport jantung.

Khusus untuk anak usia batita sampai pra remaja, anak laki-laki lebih aktif bergerak dibandingkan dengan anak perempuan. Dimulai sejak capek menemani mereka waktu baru belajar jalan sampai sudah nggak kekejar lagi kalau mereka naik sepeda. Wuss... ngebut!

Kecelakaan saat bermain

Namanya musibah, bisa terjadi kapan dan di mana saja. Bahkan di lingkungan rumah yang aman. Anak-anak yang sedang bermain bisa celaka entah karena ketidaksengajaan atau akibat ulah orang lain atau temannya.  

Anak pertama Aa Dilshad saya pernah nyungsep di selokan. Aa digendong pulang oleh tukang ojek dalam keadaan terluka. Beruntung lukanya tidak parah, hanya lecet dan memar serta keseleo. Diberi obat luka dan dipijat ke tukang urut juga sembuh dalam waktu cepat.


Foto keluarga waktu anak-anak lagi 'sedeng2nya' aktif :D

Si nomor dua Kk Rasyad juga berulang kali jatuh. Masih dari sepeda. Kalau nggak luka di bagian kaki, pernah juga wajahnya lecet karena jatuh dan terseret di aspal. 


Saat luka hampir sembuh

Baca juga: Kk Rasyad Jatuh dari Sepeda

Jelang tamat SD, mereka sudah tidak pernah celaka lagi. Selain sudah bisa menjaga diri, frekuensi bermain mereka berkurang karena kesibukan di sekolah. Walaupun masih sih, luka atau lecet sedikit karena bermain masih sering terjadi namun tidak separah sebelumnya.


Tiga anak yang diam kalau lagi tidur :P

Sudah tenangkah saya? Oh belum! Masih ada si bungsu Dd Irsyad! Hmm, sepertinya saya belum diijinkan untuk santai nih, hehe. Alhamdulillah, fisik saya masih kuat untuk sport jantung berikutnya. Kenapa? Karena si bungsu ini aya aya wae kejadiannya yang bikin hati saya jadi cemas.

Sekedar luka ringan karena terjatuh, itu mah biasa. Tapi kalau lukanya di bagia kepala, bikin stress nggak sih? Khawatir banget kalau luka di kepala setelah benturan bisa mempengaruhi otak dan tumbuh kembangnya. Dd Irsyad pernah jatuh dari motor waktu masih batita. Untungnya dia terjatuh saat parkir, bukan saat motor melaju. Lukanya ringan namun cukup membuatnya shock waktu itu.

Luka di kepala selanjutnya waktu kelas 2 SD. Penyebabnya adalah tabrakan dengan temannya di mesjid. Ada anak tetangga tiba-tiba berbalik dan bertubrukan  dengan Dd Irsyad. Gigi depannya menancap di kepalanya. Beruntung ada Kk Rasyad di sana dan langsung membersihkan rambut adiknya yang bersimbah darah. Dibawa ke klinik, untunglah lukanya tidak perlu dijahit.

Perban di kepala yang menarik perhatian



Cerita terjatuh yang bikin urusan jadi panjang adalah waktu Dd Irsyad terjatuh dari tempat tidur saat main lompat-lompatan. Semacam terluka sambil terkilir, proses sembuhnya memakan waktu cukup lama. Dikira cuma jatuh biasa, ternyata Dd terus berjalan pincang meski luka lecetnya sudah sembuh. Sudah dipanggil tukang urut ketika jatuh juga tidak ada masalah.


Luka yang menyebabkan cara berjalan Dd jadi aneh

Cemas ada apa-apa dengan struktur tulangnya, saya dan suami memeriksakannya ke rumah sakit. Hasil rontent menunjukkan letak kakinya yang tidak seimbang. Dari situ kami dirujuk ke dokter ortopedi khusus anak di Jakarta. Mulailah pemeriksaan demi pemeriksaan. Cek darah dan rontgent khusus. Belum lagi antrian yang mengular. Sabar sabar...



Ada satu hal yang bikin saya sedih bukan kepalang. Yaitu diagnosa dokter di rumah sakit Bogor mengatakan kalau kaki Dd Irsyad sudah salah sejak kecil Duh, patah hati ini. Merasa jadi ibu yang gagal karena telat melihat pertumbuhan kaki si bungsu. Saya merasa selama ini Dd Irsyad berjalan dengan normal tanpa hambatan. Bagaimana mungkin kakinya bisa tinggi sebelah?


Hasil rontgent yang bikin kaget



Saya pun berdoa memohon pada Yang Maha Kuasa, semoga hasil pemeriksaan baik-baik saja. Alhamdulillah, Dd dinyatakan baik-baik saja. Kakinya pincang hingga seolah kelihatan panjang sebelah adalah karena dia ragu berjalan normal akibat efek nyeri setelah jatuh.




Gimana? Nano-nano kan rasanya? Lumayan menguras emosi dan bikin lemes karena sport jantung. Gemblengan dari jantungan mulai anak pertama, kedua, sampai ketiga ini akhirnya membuat saya jadi  kuat mental. Alhamdulillah... tabah menerima kenyataan, hihihi.

Update: 
Tidak semua kasus jantungan saya ceritakan di sini. Berikut adalah kasus terbaru di tahun 2019:
  • Dd Irsyad didorong temannya di sekolah. Kena pinggiran pintu sampai luka lecet di jidatnya. Pas kejadian langsung pusing dan dibawa ke UKS. Beruntung tidak perlu dijahit.
  • KK Rasyad di pesantren jatuh dari sepeda. Kaki dan tangan lecet tapi nggak luka parah.
  • Aa Dilshad jatuh dari skateboard. Nggak masuk sekolah buat dipijet dan istirahat. Luka di lutut dan betisnya baret lumayan banyak karena terseret di aspal.



Sedihnya saat anak sakit

Ada lagi nih. Kali ini bukan karena kecelakaan, tapi akibat penyakit. Rasanya sedih saat anak sakit. Tambah sedih jika penyakitnya adalah penyakit yang mematikan! Duh, air mata ini tak kuasa ditahan saat menungguinya di rumah sakit. 

Kejadiannya pada tahun 2017. Saat itu, beberapa tetangga terjangkit demam berdarah di komplek. Kk Rasyad pun terkena penyakit ini. Demamnya tinggi dan badan lemas tak berdaya membuat saya tertekaan. Usai masa kritis Kk Rasyad lewat, gantian Dd Irsyad yang ikut menyusul diopname di rumah sakit karena demam berdarah. Ya Allah... saya pun harap-harap cemas untuk kedua kalinya.

Syukurlah, Dd Irsyad lebih mudah melewati masa kritis karena penanganan yang cepat (saya segera membawanya ke rumah sakit setelah melihat gejala yang sama seperti kakaknya). Mulanya kedua anak saya ada di kamar perawatan terpisah. Setelah kondisi mereka membaik, saya memindahkan mereka dalam satu kamar yang sama. Biar nggak capek juga bolak-balik dari kamar yang satu ke kamar yang lain.

Dirawat bareng di rumah sakit
Baca juga: Dirawat Bareng di Rumah Sakit

Penyakit demam berdarah jadi sesuatu yang menakutkan bagi saya. Mengingat dulu keponakan saya meninggal karena penyakit demam berdarah di usia 5 tahun. Saat itu demam tingginya tidak kunjung membaik dan virus dengan cepat menyerang lambungnya. Innaillahi...

Masih trauma dengan penyakit yang mematikan, saya kembali deg-degan ketika Dd Irsyad panas tinggi beberapa bulan yang lalu. Suhu badannya tidak juga turun, nafsu makannya merosot, bahkan Dd sulit disuruh untuk minum. Segera dilarikan ke rumah sakit, Dd Irsyad harus dirawat karena sudah dehidrasi. Untunglah bukan disebabkan oleh penyakit yang lain. Namun tetap saja bikin was-was bukan?

Dirawat lagi di rumah sakit

Baca juga: Pasien Kalem

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Tiba-tiba diberi sakit atau ada musibah celaka yang tak terduga. Saat itu terjadi, apakah kita juga siap dengan biaya perawatan di rumah sakit? Harus siap! Demi kelangsungan hidup sang buah hati tercinta, sebaiknya mulai pikirkan tentang hal yang satu itu.

Bayangkan jika si kecil terkena musibah namun kita tidak punya cukup biaya untuk berobat? Terlebih jika diperlukan pemeriksaan khusus seperti pada kejadian kaki Dd Irsyad yang membengkok karena jatuh. Tanpa dana yang cukup, pemeriksaan tidak bisa dilakukan dan penanganan kesembuhan si kecil jadi tertunda. Bahkan lebih ekstrim lagi, jika si kecil kena penyakit yang parah bisa terlambat ditangani dan membahayakan nyawanya. Hiks...

Bahagia lihat anak sehat dan ceria


Mempersiapkan dana pengobatan dan asuransi

Supaya nggak was-was dengan biaya pengobatan dan resiko yang tidak terduga, anak-anak diikutsertakan pada asuransi. Termasuk asuransi untuk berobat dan kecelakaan. Jangan lupa, tabungan darurat selalu tersedia. Buat jaga-jaga jika dalam keadaan tertentu dan asuransi tidak bisa digunakan.

Keluarga saya menggunakan asuransi dari kantor suami dan ada juga BPJS. Jujur, yang terakhir ini jarang banget saya gunakan. Kenapa? Entahlah, sudah merasa nyaman saja dengan asuransi kantor di rumah sakit yang dirujuk. Jika ada kondisi mendesak, bisa langsung dirawat tanpa prosedur yang rumit.

Bukan berarti saya tidak menggunakan fasilitas BPJS. Beberapa kali sudah saya gunakan untuk berobat sakit ringan di klinik terdekat. Hmm anu, saya agak-agak pegimana dengan perlakuan perawat kalau mengeluarkan kartu ini. Dikiranya saya nggak punya duit. Padahal saya mah menggunakan hak saya sebagai pengguna BPJS. Karena baperan itu, saya lebih suka pakai asuransi kantor yang pelayanannya cepat, hehehe.

Apa pun asuransi yang digunakan, semoga kita semua selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa dan diberi kesehatan untuk bisa terus bersama keluarga tercinta... aamiin.



Note: ini bukan postingan berbayar. Cuma sepenggal draft buat postingan berbayar yang nggak jadi dipakai. Daripada mubazir udah capek-capek mikir tapi terbengkalai... ya saya posting aja buat ajang curhat :D

25 comments :

  1. Waaahh, jagoannya mba Inna keren kereeenn!
    LELAKI SEJATI! :D Yang jelas, yap, sebagai ortu, kita memang kudu mempersiapkan asuransi untuk mengurangi frekuensi dan intensitas jantungan yhaaa

    ReplyDelete
  2. haha siap-siap jantungan ya kalau punya anak laki-laki :D
    Anak laki-lakiku cuma 1 dan memang lebih aktif dibanding saudara2nya yang perempuan. Waktu TK dia lari-larian, jatuh dan kepalanya terluka, pernah juga 2 kali masuk RS. Memang perlu sekali asuransi, pengalaman sendiri 4 hari dirawat biayanya lumayan besar (biaya sendiri krn tidak punya asuransi).

    ReplyDelete
  3. Duh bacanya aja jantungan nih kak..heheh...Gemana kalo punya anak laki beneran yak ...Anakku dua2nya perempuan..dan relatif anteng2 pula..Tapi kayaknya tetep butuh sedia alokasi dana untuk kondisi darurat..

    dianesuryaman dot com

    ReplyDelete
  4. Wah kita anaknya laki-laki semua ya sama, cuma dirimu lebih banyak siapin mental ya hihihi. Bener juga sih anaknya diem tapi namaya musibah ada aja. Aku pernah dikabarin masih pagi dari sekolah waktu itu Pascal harus dijahit karena ketabrak temennya.

    Duh aku gak teg alihat fotonya mak, kasihan ya. Semoga sehat selalu ya untuk semuanya

    ReplyDelete
  5. Mba Innaaa.. iyaaa sport jantung banget bacanya bayanginnya. Mirip kisah aku yg dbd. Sedih krna sodara pernah meningal krna dbd, parno banget yaa jadinya.
    Ini lalaki 3 ampun pasti 😅 anak kdua aku aja udah ampun walau cewe. Alhamdulillah mba Inna kuat selalu, strong. Aku jg pakai asuransi kantor pak suami, pokoknya alhamdulillah masi bisa ngobatin anak2. Bersyukur bgt aku. Skrg tinggal dede Irsyad ya mbaa, surprise2 dr dede Irsyad 😃 insya Allah anak sholeh semuanya..

    ReplyDelete
  6. Kalau saya yang begini justru anak perempuan, Mbak. Nai berapa kali tuh waktu kecil jatuh. Sampai gigi depannya patah. Mana udah bukan gigi susu. Sekarang aja kelihatan rapi karena dipoles di dokter gigi hihihi.

    Tetapi, setelah remaja mulai kalem. Giliran kakaknya deh yang mulai. Itu karena Keke mulai menggeluti balap motor. Jadi pernah beberapa kali jatuh dan sampai patah tangannya

    ReplyDelete
  7. Kalau aku mikirnya anak cewek cowok sama uniknya tergantung bagaimana ortunya sih. Soalnya ada anak sodara, cowok dan dia diam mulu. Ini malah bikin stres karena gak tahu maunya gimana. Ya dinikmati aja ya Mbak

    ReplyDelete
  8. Mbak Inna paling cantik sendiri ya di rumah. Jadi bayangin kalau punya anak laki2 yang aktif kaya gitu juga. Bikin deg2 gan pastinya

    ReplyDelete
  9. Duh....ngilu bayanginnya. haha...aku anak lakinya 1 aja udah ngerasa gini rempongnya. Wkwkwk....Jagoan dirimu Mbak.

    ReplyDelete
  10. Wah, nano-nano ya pasti perasaannya. Yang ngeri tu pas baca tunbrukan sama temannya sampai gigi temannya nancep di kepala. Duh gimana itu rasanya. Sakit banget pastinya. Teman yang nabrak juga kasihan. Yah, begitulah anak-anak sering tidak hati-hati dan waspada saat bermain..

    ReplyDelete
  11. saya justru bahagia punya anak lelaki. baru seorang dan rencananya memang seorang saja. saya pernah trauma saat hamil adiknya, bukan kesan positif yg saya dapatkan jd lebih baik saya ounya seorang anak lelaki saja

    ReplyDelete
  12. Ternyata bener ya yg org bilang, punya anak cowo itu kudu siap2 siapkan hati ya, banyak benjol and luka2 ya. Tapi emang bener sih, aku yg baru punya anak mau 6 tahun aja udah sering luka sana sini :)

    ReplyDelete
  13. Kebetulan nih anak laki dan perempuanku sama aja lasaknya mba. Malah yang cewek pernah celaka parah banget di muka. Sama deg-degannya. :))

    ReplyDelete
  14. Masya Allah Teh, bacanya juga deg-degan, lihat foto anak-anak luka gitu meuni ngilu, semoga anak-anak kita selalu dilindungi Allah ya, anak cowok aktif banget geraknya..

    ReplyDelete
  15. Aduuuh, meni linu liat lukanya anak-anak, Na...
    Itu 3 jagoan mirip bapaknya semua. Asa liat Dadang semua hihihi

    Eh soal BPJS, kami juga pernah ngalamin sih. Pelayanannya beda, saat bilang dari jalur umum bukan BPJS :D

    ReplyDelete
  16. Wah, seru ya..sama aku juga 2 anak cowok warbiyasaa dramanya hahaha.
    Semoga ketiganya sekarang sehat semua ya, Mbak
    Sama aku juga punya 2 asuransi. Dari kantor yang dipakai ke RS yang ditunjuk, ini yang selalu dipakai.
    Untuk BPJS belum pernah dipakai, gapapa, biar bisa dipakai yang membutuhkan saja

    ReplyDelete
  17. Anak saya keduanya cewek. Itupun sudah lelah. Gimana kalo cowok ya. Ampun hamba yaa Gusti.. Haha.. Tapi masih gak jera pengen punya anak cowok jg. Hihi

    ReplyDelete
  18. Sudah serius akut akutu membaca suka duka punya anak laki-laki.
    Giliran baca penutup, izinkan daku senyum simpul ya, Mak :)
    Jadi kepo, kenapa tidak jadi dipakai Mak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ternyata asuransi itu ga mengcover biaya pengobatan rumah sakit, jadi draft postinganku ditolak :D

      Delete
  19. Anak lelakiku untungnya ngg heboh - heboh banget mba.. tapi memang harus siap2 dengan segala kemungkinan. Btw aku suka mixed BPJS dan asuransi

    ReplyDelete
  20. Subhanalloh rasanya nano-nano banget Mbak. Anak-anak laki-laki yang aktifnya kadang di luar batas ya sampai kerap kecelakaan. Semoga ke depan anak² Mbak semakin sehat dan semakin waspada. Jadi para jagoan yang selalu membanggakan.

    ReplyDelete
  21. Tosss dulu mbak, kita punya anak cowok semua. Cuma bedanya aku cuma dua anak, mba Inna tiga anak cowok. Memang sih dulu anak-anak jaman masih usia SD gitu, sering pulang dengan luka di kaki, tangan atau wajah. Deg-degan sih awalnya, tapi akhirnya pasrah aja sambil selalu pesan mereka agar rajin bawa shalawat. Aku sendiri tiap pagi melepas anak-anak dengan selalu membaca istighfar dan shalawat, samapi mereka sekarang udah kerja dan mahasiswa, tetap aja gitu terus

    ReplyDelete
  22. Masyaa Allah serunya punya 3 anak sholeh. Dari awal baca aku senyum-senyum terus. Begini ya rasanya punya anak laki-laki yang aktif. Semoga selalu sehat Bundanya dan seluruh keluarga.

    ReplyDelete
  23. Ya ampuuunnn hehe. Dag dig dug :D
    Tapi ini Maxy lebih kalem mbak, malah adeknya yang cewek yang grusa grusu. Mungkin kebawa krn Maxy dulu kecil ya pas lahir jd aku lindungin banget saat dia baby sampai toddlernya, jdnya kyk lbh bertindak hati2 jg hehe

    ReplyDelete
  24. Iya mba,, klau anak jatuh trs Luka kadang bikin Kita khawatir bnget sakit gak dirasa kitanya yg ketar ketir semoga selalu sehat2,,, semangat mba 💗

    ReplyDelete

Mohon meninggalkan berkomentar yang sopan.
Komentar dengan link hidup akan saya hapus.

Terima kasih ^_^

Back to Top