Thursday, November 3, 2016

5 Faktor Penyebab Toko Obat Trisad Harus Ditutup


Saya termasuk orang yang gampang terbawa perasaan. Dulu, waktu belum punya usaha sendiri, saya sering mengamati toko-toko yang ada di sepanjang perjalanan dari rumah menuju beberapa tempat yang rutin kami sekeluarga kunjungi. Saat melihat ada sebuah toko yang tiba-tiba tutup, saya ikut sedih. Menyayangkan kenapa usaha tersebut sampai harus gulung tikar.



  Lima tahun yang lalu, saya dan suami membuka toko obat yang diberi nama TRISAD. Nama tersebut diambil dari nama belakang ketiga anak kami: Dilshad, Rasyad, dan Irsyad. Saya mulai belajar membesarkan sebuah usaha. Seiring waktu berjalan, hasil dari penjualan berkembang dengan lambat. Akhirnya, kami terpaksa menyerah untuk menutup toko ini dalam waktu dekat. Jangan tanya betapa hancurnya perasaan saya...



  Sebelum bulan November ini berakhir, toko harus segera dikosongkan karena akan diisi oleh pengontrak yang lain. Ketatnya persaingan untuk mendapatkan toko kontrakan sudah pernah saya rasakan sendiri. Demi memberikan kepastian kepada pemilik kontrakan, saya menentukan sendiri toko apa yang akan menggantikan toko obat saya nanti. Juga supaya yang bertanya sudah tahu bahwa toko ini kosong dan sudah ada calon penggantinya.



   Saya sudah menawarkan toko saya kepada ibu guru di sekolah TK anak-anak, beberapa bulan sebelum toko ditutup. Beliau dan suaminya (yang kebetulan guru sekolah SD Kk Rasyad) punya usaha fotokopi dan alat tulis. Lokasi toko mereka kurang strategis karena terletak di dalam kampung. Dengan menempati toko saya yang lebih oke posisinya, diharapkan usaha mereka bisa semakin berkembang.


Pembukaan toko di lokasi yang ketiga.
Cerita selengkapnya: Grand opening lagi 


5 Faktor Penyebab Toko Obat Harus Ditutup

Kenapa toko obat ini harus tutup? Faktor penyebabnya ada banyak. Saya akan beritahu satu per satu penyebab utamanya saja, yaitu:
  1. Omzet penjualan biasa-biasa saja. Memang ada peningkatan secara signifikan. Ditambah saya juga berjualan di rumah dan melayani pesan antar obat untuk tetangga. Dari tiga lokasi toko yang pernah ditempati, seharusnya lokasi terakhir yang paling strategis ini bisa meraup keuntungan lebih banyak lagi.  Kenyataannya, masih banyak yang belum tahu ada toko obat di seberang komplek. Bisa jadi disebabkan oleh plang toko yang kurang besar. Well, masalah plang memang harus kami pasang seadanya Jika plang atau tanda toko obat dipasang besar dan kelihatan jelas, dikhawatirkan nanti ada pemeriksaan karena toko obat Trisad belum punya ijin.
  2. Banyak saingan. Sekitar 100 meter dari seberang toko obat Trisad ada apotek yang sudah laris dan menjadi satu-satunya andalan warga komplek. Di dalam komplek ada toko obat berijin. Radius 500 meter ke arah kiri dan kanan jalan, masing-masing ada klinik 24 jam dan toko obat.
  3. Sulit mendapatkan obat. Sejak ada kasus vaksin palsu, peredaran obat di pasaran kian diperketat. Saya kesulitan mendapatkan obat tertentu dari salesman dan di tempat grosir obat langganan. Sekarang ada peraturan baru untuk membatasi pembelian obat. Padalahal obat-obat tersebut justru laris terjual di toko. 
  4. Harga kontrakan yang lumayan mahal. Posisi menentukan prestasi. Lokasi toko yang semakin mendekati gerbang komplek mempengaruhi harga kontrakan. Memang sih, masih ketutup dengan omzet bulanan. Tapi perasaan kok saying juga jika setiap tahun harus membayar sekian untuk tempat usaha. Sebetulnya, lebih enak buka toko di depan rumah sendiri, nggak usah bayar kontrakan. Atau punya ruko sendiri? Aamiin, mudah-mudahan bisa kesampaian suatu saat nanti. 
  5. Kurang tekun menjaga toko. Ini salah saya. Sebaik-baiknya usaha adalah yang ditunggui sendiri. Harus tekun! Saya hanya bisa jaga toko pada pagi hari. Saya tidak bisa full time jaga toko karena harus segera ada di rumah mengurus anak-anak dan Eyang. Dibandingkan dengan adik ipar saya yang sudah lebih dulu punya toko obat, toko obat kami tertinggal jauh. Adik ipar saya (perempuan) jaga toko dari pagi sampai malam. Anak pertamanya tinggal di rumah Nenek. Anak kedua setelah pulang sekolah sampai malam juga dititipkan ke Neneknya. Setelah Nenek meninggal, anak pertama tetap tinggal bersama Kakek dan anak kedua dititipkan di rumah saudara di dekat toko. Saya harus begitu juga? Membiarkan orang lain mengurus anak-anak demi toko? Maaf, saya tidak bisa.

Faktor Lain yang Terpenting

Saya sempat berpikir untuk menyelamatkan toko obat Trisad dengan menambahkan jualan kosmetik. Usul ini disambut baik oleh suami dan Titin, karyawan toko kami. Di sekitar komplek dulu pernah ada toko kosmetik dan laris manis. Entah kenapa, toko tersebut tutup. Jika saya buka jualan kosmetik atau mungkin beralih menjadi kosmetik saya yakin toko kami akan maju dengan pesat!

  Terus, kenapa nggak jadi jualan kosmetik? Modal yang diperlukan untuk belanja kosmetik memang lebih mahal daripada membeli obat. Namun bukan itu alasannya. Saya tidak yakin mau dibawa ke mana toko ini. Situasi sebenarnya, saya dan Titin seolah terbagi dua karena harus mengurus Eyang di rumah. Jika toko kosmetik laris, mana sempat kami mengurus Eyang?

  Setiap hari, sebelum berangkat jaga toko, Titin harus meladeni Eyang dulu di rumah. Kadang saya harus menunggu lebih dari satu jam sampai Titin datang dan membantu pekerjaan di toko. Kalau lagi nggak ada barang sih nggak apa-apa. Nah, pas habis belanja obat yang repot. Saya harus mengerjakan semuanya sendiri yang memakan waktu lebih lama tanpa dibantu Titin.

  Sebenarnya, Titin tidak perlu ‘macet’ di rumah dulu sebelum berangkat ke toko. Toh, di rumah selalu ada ART yang siap mengerjakan semua pekerjaan rumah. Titin adalah mantan pembantu kami di rumah. Eyang sudah biasa dilayani oleh Titin dan tidak mau dilayani oleh ART yang lain. Kemarahan dan kecemburuan karena merasa Titin ‘direbut’ membuat banyak kata-kata tidak enak terdengar. Dan benar saja, lontaran perasaan itu didengar oleh Allah SWT. Suara hati beliau dikabulkan.

  Hikmah yang bisa diambil: jika ingin membuka suatu usaha, mintalah restu yang tulus dari orang tua (jika keduanya masih ada). Saya tidak menyesali situasi ini. Jangan juga menghakimi Eyang, ya. Ibu saya tidak sadar dengan apa saja yang dilakukannya karena beliau istimewa dan berkepribadian spesial. Jadi, Ini memang sudah takdir. 

  Duh, saya nulis ini sambil menahan air mata. Saya sedih banget…

  Saya sedih karena harus berpisah dengan toko obat yang sudah menjadi warna dalam hidup saya. Meski sedih, saya juga merasa senang. Saya senang bisa mendapat banyak pengalaman baru. Saya belajar, bertemu banyak orang, dan merasakan sendiri betapa sulitnya mengelola suatu usaha supaya terus bertahan dan berkembang. Tidak, saya tidak merasa rugi sudah mengeluarkan banyak uang untuk modal usaha. Harga sebuah pengalaman lebih berarti buat saya.

Selanjutnya apa?

Sekarang saya jaga toko sendirian. Waktu jaga toko tetap pada pagi hari sampai siang. Lumayan, sambil menghabiskan stok obat yang ada. Sedangkan Titin sudah saya berhentikan. Dia langsung mendapat tawaran pekerjaan jadi penjaga toko pakaian di toko milik tetangga. Alhamdulillah, rejekimu ya Tin. Nggak perlu nganggur lama sudah ada kerjaan baru. Mudah-mudahan kamu betah dan sukses di tempat barumu ya!

  Selanjutnya, saya tetap mau berbagi pengalaman atau apa saja seputar toko obat. Meskipun toko sudah tutup, nggak ada salahnya saya berbagi apa yang saya dapat selama mengelola toko. Masih mau nyimak nggak? Lha, kenapa nggak ditulis sebelumnya sih? Engg, anu… pan saya riweuh tea. Lagipula, dulu saya takut jika banyak menulis tentang toko obat, nanti toko saya kena ‘gerebek’. Kalau sekarang saya mau nulis apa saja mah bebas.

Postingan ini bersambung sampai saya tutup toko nanti…


10 comments :

  1. Sabar mbk ya, tetep semangat mencari ide-ide bisnis yang lai masih banyak.

    ReplyDelete
  2. Sabar ya mbak,semoga diganti dengan yg lebih baik...

    ReplyDelete
  3. Hai mba, sejujurnya ortuku jg pernah seperti eyang, dan aku sepertinya bisa merasakan apa yg mba rasakan,,tetap semangat mba,,

    ReplyDelete
  4. Pasti pintu rezeki yang lain terbuka, Insya Allah...

    ReplyDelete
  5. duh ikut sedih mba Inna, jadi ingat perjuangan ortu saya bikin toko dari mulanya cuma jual terigu, beras sekarang jualan macam-macam barang kelontong yang lebih banyak ragamnya :)

    ReplyDelete
  6. Baca ini jadi ikut mellow soalnya ibu saya juga punya dua kios di stasiun dan sekarang harus direlakan buat dikontrakin ke orang karena kurang tenaga buat nungguin.

    ReplyDelete
  7. hiks...ikut sedih bacanya...apoteknya temenku kapan hari juga tutup karena omsetnya biasa2 aja jadi kurang bisa nutup tagihan plus biaya lainya

    ReplyDelete
  8. aku bisa ngerasain sedihnya mbak... punya usaha itu ibarat kita punya anak yg diasuh supaya bisa besar... jd kalo sampe tutup, rasanya pasti nyesek,.. itu sbnrnya yg bikin aku sampe skr belum mau untuk mengambil alih toko bakery papa... papaku punya usaha bakery di medan.. dan cabangnya udh lumayan banyak... tapi sampai skr msh di pegang ama papa dan partner kepercayaannya.. pdhl papa udh berkali2 bilang pgn ada anak2nya yg terlibat.. tp kita lbh memilih utk kerja kantoran yg dari segi gaji dan fasilitas lbh terjamin... sejujurnya aku takut ambil alih toko yg udh maju, krn aku msh blm yakin bisa mempertahankan itu.. aku takut malah akan kolaps saat aku yg pegang. iya sih itu pesimis namanya.. tp gimana yaa... blm bisa ngilangin rasa itu aja sih :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. agak sulit juga ya mbak, untuk memulai sesuatu dengan keraguan. jika ingin mengambil alih usaha papa, mbak fanny harus memantapkan hati dan mengumpulkan semangat dulu. supaya mbak fanny yakin bisa menjalaninya. jika sudah yakin, qpa pun rintangannya pasti mbak fanny bisa atasi. tentu saja dengan bimbingan papa agar apa yang sudah beliau jalankan selama ini bisa terus berhasil. semoga sukses ya :)

      Delete

Mohon meninggalkan berkomentar yang sopan.
Komentar dengan link hidup akan saya hapus.

Terima kasih ^_^

Back to Top