Thursday, August 18, 2016

Tuhan, Ijinkan Saya untuk Merasa Lelah


[Tulisan ini dibuat untuk menumpahkan isi hati. Pasca Lebaran, semangat ngeblog saya hilang karena kebanyakan ngegalau. Semoga setelah menulis ini, galau hilang dan saya menjadi normal kembali. Sebaiknya tidak usah dibaca jika tidak ingin membuang waktu untuk menyimak curhat saya]




Tuhan, ijinkan saya untuk merasa lelah. 
Saya ingin diam mengatur nafas sejenak. 
Saya ingin beristirahat. 
Tolong Tuhan, ijinkan saya untuk merasa lelah. 

Saya lelah dihina. 
Saya lelah dicaci maki. 
Saya lelah difitnah. 
Saya lelah disangka tidak baik. 
Saya lelah dituduh berbuat jahat. 
Saya lelah dikutuk. 
Saya lelah tidak diakui. 

Saya lelah...

  Sebetulnya saya nggak boleh curhat. Apa daya, saya hanya manusia biasa. Curhat kepada-MU tentu tidak bosan saya lakukan. Menunggu petunjuk dan jalan yang terbaik untuk menyelesaikan ujian ini. Apa pun yang terjadi, Insha Allah saya siap menghadapinya. Keputusan terbaik hanya ada di tanganMU, ya Allah.

  Mari mundur sejenak. Sejak berhenti merantau pada tahun 2011, hidup saya berubah. Sesuai dugaan, saya mulai merasakan ada 'bayangan masa lalu' yang kembali datang menghantui. Ibarat putri tidur, sang bayangan menggeliat bangkit kembali. Saya tidak mau si putri bangun dan mengacaukan hidup saya (lagi). Maunya sih, si putri nggak usah bangun. Udah, tidur lagi aja. Kalau bangun malah ngerepotin. Yang ada malah saya pengen ngeracun si putri biar tidur selamanya...

   Tapi saya nggak tahu cara 'membunuh' si putri bayangan itu. Etapi, kalau saya mati, si putri otomatis bakal mati juga kan? Emang kenapa dengan si putri? Si putri hadir lewat serangan drama yang diluncurkan oleh seseorang. Drama berupa cacian, makian, fitnah, amukan dan tangisanlah yang menghidupkan si putri kembali. Suasana yang sama seperti di masa lalu. 

  Keinginan untuk mengakhiri hidup juga sempat terlintas di benak saya. Setahun yang lalu, saya merasa sudah tidak kuat lagi. Rasanya ingin sekali mengakhiri hidup agar drama ini tidak berlanjut. Agar suami dan anak-anak bisa hidup bebas. Dengan tidak adanya saya, otomatis suami dan anak-anak akan memulai hidup baru. Tanpa drama. Tapi dengan ibu baru pastinya. Ups... perih! Terus, kok nggak jadi bunuh dirinya? Saya terlalu penakut. Dulu (dengan sumber masalah yang sama), saya gagal bunuh diri waktu SD karena takut. Udah jadi emak-emak, saya masih penakut juga. 

  Mungkin ini yang disebut luka hati tidak bisa disembuhkan, trauma tidak bisa dilupakan. Seandainya kamu punya trauma bagaimana? Okelah, kamu bisa baik-baik saja menerima kenyataan. Kembali melanjutkan hidup. Luka dan trauma hilang seiring berjalannya sang waktu. Tapi, apa yang terjadi jika kamu dihadapkan lagi oleh sang pembuat luka? Memori tentang trauma itu pasti datang lagi. Perasaanmu juga sama seperti di masa lalu. Mau sembuh? Hanya jiwa besar penuh maaf yang kamu perlukan.

   Apakah saya pemaaf? Ya. Saya sudah memafkan. Bahkan memakluminya. Tapi, saya tidak bisa melupakan. Ketika perasaan yang sama kembali hadir (yaitu bayangan trauma masa lalu), saya terseret dalam lorong waktu. Saya berubah. Bukan sebagai seorang ibu dengan tiga putra. Saya menjadi seorang gadis kecil yang ketakutan. Gemetar, jantung berdegup kencang, suara terbata-bata... Itukah saya?

   Sebuah kejadian yang saya sebut sebagai 'super drama' terjadi pada akhir tahun 2013. Beberapa pukulan sukses mengantarkan saya pada mimpi buruk selama beberapa bulan! Mimpi buruk dengan monster yang sama selalu berulang. Seperti yang terjadi pada masa kecil saya. Sejak itu, saya mulai dilanda ketakutan.Dan sepanjang tahun 2014 adalah hujan drama untuk saya. Saya tidak bisa melawan. Saya cuma bisa pasrah...

    Sudah ikhlas? Ya, saya ikhlas. Orang-orang tercinta yang mendukung saya mengatakan: ini cobaan untuk saya. Tambahan pahala untuk saya. Jadi, setiap drama datang, itulah pahala buat saya. Mulanya saya bisa terima. Tapi lama-lama saya merasa jenuh. Masa mau dapat pahala harus dikasih drama dulu? Astagfirullah...

   Pertengahan tahun 2015, saya menemukan titik terang dari permasalahan saya. Jawaban dari Allah agar saya bisa menerima keadaan ini dengan perasaan lebih baik. Dari sebuah blog yang penulisnya punya pengalaman sama, saya menemukan sebuah kata kunci.  Kata kunci yang merupakan penyebab segala serangan drama yang ditujukan khusus untuk saya seorang. Kaget, namun sudah bisa menduga pasti ada alasan dibalik semua ini. Senang, karena toh saya ternyata nggak gila kaan? Tapi saya juga merasa marah, merasa tidak adil kenapa cuma saya yang mengalami hal ini? Kenapa yang lain tidak? 

   Untunglah saya punya suami yang sabar. Dia cuma bilang bahwa SAYA yang terpilih, KITA yang terpilih untuk menghadapi cobaan ini. Coba lihat yang lain. Mereka juga riweuh dengan cobaannya masing-masing. Cobaan kita cuma satu... ya itu tadi. Seharusnya kita bersyukur dapat cobaan seperti ini. Bukan jenis cobaan yang lain.

   Sejak itu, saya merasa harus mengaktifkan kata kunci tersebut di kepala saya. Menanamkan sugesti. Mencegah supaya saya tidak galau berkepanjangan. Kata kunci yang harus diucapkan berulang ketika serangan drama datang. Sengaja, biar saya nggak terbawa perasaan. Tapi yah, saya sering khilaf. Terlalu banyak memendam emosi membuat saya sering menumpahkan kegalauan pada anak-anak. Duh, maafin Ibu, ya. Kadang Ibu suka nggak sadar menjadi manusia yang tidak ingin Ibu tiru seumur hidup!

   Pengalihan perhatian lain sekaligus terapi jiwa adalah menulis. Melampiaskan diri dengan menulis berhasil menyelamatkan saya dari kegalauan. Berkat menulis, pikiran saya menjadi normal, jadi rasional. Jadi ketika drama dimulai, saya bisa menghadapinya dengan dingin dan bahkan bercanda! Ups! Ingat! Jangan bercanda! Ngeri bayangin reaksinya. Tetep cool babe, tetep cool!

    Ada lagi nih yang diperlukan untuk menjaga si putri bayangan trauma nggak kucluk-kucluk muncul ketika ada serangan drama. Saya butuh anjing penjaga! Lho kok? Habis, saya ini orangnya lemah! Sering terbawa arus drama, lalu tenggelan dalam lautan kesedihan. Si anjing penjaga ini mengingatkan saya akan jati diri sebenarnya: seorang istri dan ibu! Suami dan anak-anak nomer satu! Ayo, berpikir realistis! Guk guk!

  Anjing penjaga itu adalah MATI RASA. Saya harus mati rasa untuk melindungi perasaan saya. Aneh tapi efektif! Mati rasa agar saya tidak melow dan terseret permainan drama yang mengocok emosi. Mati rasa dengan diam seribu bahasa dan tanpa reaksi. Tidak menjawab saat dicaci, tidak bereaksi saat dihina. Cukup diam. Muka kelihatan lempeng, tapi hati mendidih di dalam. Auch! Jika saya menunjukkan emosi seperti sebelumnya, urusan bisa panjang! Bakal ada adegan sinetron seperti yang sudah direncanakan. Jadi, saya nggak boleh kepancing emosi. Nanti penonton seneng dong. Ada pertunjukan.

  Kelakuan tidak rasional sempat saya jalani selama dua tahun.  "Neng, ulah kitu-kitu teuing atuh..." nasehat Bibik, mantan ART sambil geleng-geleng kepala saat melihat kelakuan saya itu, pada tahun 2014. Gara-gara saya yang terlalu berlebihan. Ibarat kata, your wish is my command. Mau berlian? Saya carikan berlian biar sampai berdarah-darah. Supaya apa? Supaya saya tidak dimaki. Saya sangat ketakutan! Tapi hasilnya apa? Setelah 'berlian' dipersembahkan, tetap saja ada cacian! Pelayanan kurang memuaskan! Tahu gitu ya nggak perlu dibela-belain kan? Bener kata si Bibik. Padahal suami dan anak-anak sudah sering saya korbankan. 

   Akhirnya, saya jalani saja apa adanya sesuai aturan baku. Maksudnya, tetap pada fitrah saya sebagai istri dan ibu. Namun tetap masih bisa berbakti sesuai takaran yang wajar. Tidak berlebihan bahkan mengorbankan suami dan anak-anak lagi. 

   Saya sadar, pengakuan yang saya tunggu seumur hidup sudah 'ketok palu' dan saya tidak bisa berbuat apa-apa. Meski semua yang termakan fitnah memandang rendah saya, saya tetap ikhlas. Hanya Tuhan yang tahu siapa yang salah dan siapa yang benar. Saya mengalah untuk selalu dijadikan kambing hitam dari setiap masalah yang muncul. Saya rela menjadi bulan-bulanan sasaran ketidakpuasan batin dari seseorang yang tidak pernah bersyukur sepanjang hidupnya. Perasaan di titik terendah ini menguras emosi dan menyita pikiran saya. Ijinkan saya merasa lelah, ya Tuhan. Saya ingin berhenti sejenak. Agar saya bisa kuat menghadapi cobaan ini...


2 comments:

  1. mungkin kesabaran udah mba Inna jalani sejak lama, tapi utk bisa melampaui ujian Allah, harus ada kesabaran lagi dan lagi. Doa saya, semoga mba inna bisa melampaui semua ujian dan cobaan dari Allah dengan baik, sehingga para 'penggoda' mba Inna bisa 'menghilang'.

    ReplyDelete
  2. Mbak, apapun masalahnya, saya doakan semoga lekas berlalu, ya. Aamiin.

    ReplyDelete

Mohon meninggalkan berkomentar yang sopan.
Komentar dengan link hidup akan saya hapus.

Terima kasih ^_^