Thursday, July 28, 2016

Memahami Anak Kembar dari Blogger Parenting Wiwid Wadmira


Teman blogger kali ini sukses bikin saya baper. Apalagi setelah main ke blognya dan menemukan banyak foto anak perempuan kembar yang menggemaskan. Oke, ini kelemahan saya. Nggak tahan kalau lihat anak perempuan yang lucu. Bawaannya pengen nyulik lalu dibawa pulang ke rumah. Maklum, saya nggak punya anak perempuan. Ketiga anak saya laki-laki semua. Bikin lagi? Emangnya kueh, gampang bikin lagi? Hahaha...

  Oia, kenalin... Wiwid Wadmira. Mom blogger dengan anak perempuan kembar bernama Kira Setyadi dan Kara Setyadi. Keduanya lahir pada tanggal 21 Juni 2010. Wah berarti sepantaran ya dengan anak bungsu saya, Dd Irsyad yang lahir bulan Agustus 2010. 

Wiwid Wadmira

   Sejak kecil, Wiwid bercita-cita ingin menjadi guru. Lulus SMA melanjutkan pendidikan D1 Sekretaris di Surabaya. Lalu setelah bekerja melanjutkan kuliah di jurusan Sastra Inggris. Sempat mencoba melamar kerja untuk menjadi guru. Namun nasib belum berpihak pada beliau untuk menjadi guru. Wiwid pun kembali fokus bekerja, menikah, lalu dikaruniai bocah kembar. 

  Mau ikut lihat blog Wiwid yang bikin saya baper? Yuk, main ke blognya yang berlatar putih bersih ini di alamat www.mykirakara.blogspot.co.id.

Blog My Kira Kara

  Wiwid mulai menulis setelah melahirkan anak kembar prematur dengan berbagai riwayat kesehatan dan tumbuh kembang. Ilmu yang didapatkan dari berbagai forum parenting, seminar, maupun workshop dituliskan kembali di blognya. Menulis blog sebagai pengingat diri sendiri dan untuk dibaca oleh orang lain. "Siapa tahu bermanfaat juga buat siapa saja yang sengaja tersesat disini. Selain itu tulisan di blog ini adalah warisan untuk Kira dan Kara, yang bisa menjadi salah satu cara mereka mengetahui siapa dirinya dan siapa saya. Konon katanya tidak ada warisan yang lebih abadi, kecuali Tulisan. Maka menulislah!" kata Wiwid.

  Tagline di blog ini adalah: "Where our metamorphosis stories begin. Just like butterflies, someday we will fly high..." Menurut Wiwid, seperti layaknya sebuah proses metamorfosis, perjalanannya dengan dua bocah kembar adalah proses belajar dalam berpikir dan bertindak. Tidak ada orang tua yang sempurna, namun kita bisa menjadi orang tua yang selalu lebih baik setiap hari. Disinilah proses belajar dituliskan.

  Dunia tumbuh kembang anak memikat Wiwid dan membuatnya aktif di forum parenting The Urban Mama sehingga beliau diangkat menjadi forum moderator selama tiga tahun. Tidak heran, blog Wiwid memang berniche parenting. Blog ini berisi kisah perjalanan, proses belajar dan tumbuh kembang, dan review. 

  Saya tertarik membaca postingan Wiwid yang berjudul Ketika Si Kembar Saling Berebut (Sibling Rivalry). Duh iya, di rumah my 3 boyz emang nggak jauh-jauh dari berantem. Tapi karena mereka beda usia, bisa ditebak siapa yang kalah, haha. Sedangkan kalau punya anak kembar kan usianya sebaya, dijamin nggak akan ada yang mau kalah apalagi ukuran badan sama dan kekuatannya juga sama. Ciaatt... pakepuk dah. Kebayang riweuhnya.

  Nah, Wiwid menjelaskan bagaimana cara supaya si kembar tidak saling berebut. Yaitu dengan mengajarkan pada mereka untuk meminjam dan berbagi, serta saling melengkapi. Belikan mainan yang sama biar nggak rebutan? Nggak ngaruh juga, tetap berebut. Saya juga pernah begitu. Yah setuju dengan tulisan Wiwid, selalu ada keingian merebut apa yang dipegang oleh saudaranya meskipun si anak sudah punya mainan yang sama. Kayaknya kalau nggak rebutan nggak seru deh, hihihi.

Kira dan Kara yang bikin gemes

  Punya satu anak saja sudah bikin rumah berantakan, apalagi punya anak kembar? Soal rumah berantakan, jujur sampai sekarang rumah saya nggak pernah rapi. Maklum, masih punya anak kecil ya memang beginilah nasibnya. Tapi kalau berantakan karena ulah anak kembar boleh jadi kadar stresnya dua kali lipat... karena ada dua anak, hehe.

  Bikin pusing dan kesel sampai pengen ngeluarin tanduk ketika melihat kondisi rumah kayak kapal pecah? Wiwid pernah merasakanya. Saya juga. Bedanya, rentang usia anak saya berbeda, yang gede masih bisa dibilangin. Bayangkan kalau ada dua batita kembar tukang ngacak-ngacak dan cuma bisa cengengesan kalau ditegur? Yah, kudu ekstra sabar sabar sabar kayaknya buat saya. Wiwid punya pendapat sendiri tentang hal tersebut:

Bahkan saya harus membuat kulkas pribadi di otak dan hati untuk mendinginkan hati dan otak. Melihat ulah 'ajaib' si kembar, rasanya memang nikmat luar biasa. Ini serius. Benar-benar nikmat. Ketika kepala sudah akan lepas, taring dan tanduk sudah mau keluar, saya selalu menancapkan dan mengingat kembali moment2 ketika mereka berada di inkubator. Ketika mereka sangat kecil dan rapuh. Betapa saya berharap satu detik lebih lama agar dapat saya peluk mereka dengan kedua tangan saya. Betapa tak pernah rela ketika 1 detik saja suster telat mengganti popoknya.. Betapa hati saya teriris-iris ketika melihat mereka menangis demi mendapat 1 tetes ASI di mulutnya.. Maka, ketika mereka mulai tumbuh rasa ingin tahu, diselingi teriakan kanan-kiri yang tak jarang membuat telinga saya memerah, dan membuat kesadaran saya hilang sejenak, hingga membuat saya melakukan hal-hal yang 1 detik kemudian saya sesali, maka saya hanya bisa memeluk mereka dan meminta maaf. Dan mereka suka rela mengatakan "Big Hug Bunda.." yang membuat hati saya selalu sukses meleleh.. Moment-moment itulah yang selalu terasa sempurna di hidup saya. Paling sempurna. Paling berharga. Paling indah, hingga saat ini. Dan saya mengatakan ini bukan lagi "terrible two", tapi ini adalah "terrific two".
  Aaah... jadi meleleh. Bunda yang satu ini memang sabar. Selain itu, Wiwid juga kreatif dan cekatan dengan sering membuat permainan anak yang kreatif bersama si kembar. Bahkan Wiwid bisa menjahit dan menyulap kemeja tidak terpakai menjadi dress anak yang cantik. Duh, keren pisan.

Wiwid dan di kembar

  Wiwid memutuskan untuk fokus pada kedua buah hatinya dan berhenti dari dunia kerja yang sudah digelutinya selama 12 tahun. Perasaan campur-aduk berubah profesi dari working mom menjadi stay at home mom sempat dialaminya.

   Kini, Wiwid sudah kembali bekerja di dunia perpajakan yang menjadi keahliaannya. Meski sudah tidak aktif di The Urban Mama, Wiwid masih setia mengikuti perkembangan dunia parenting. Gagal menjadi guru pun membuat Wiwid menyadari, mungkin Tuhan memberikan jalan lain agar Wiwid membagi ilmunya melalui blog, komunitas dan berbagai seminar maupun workshop.

  Semoga sukses untuk Wiwid Wadmira. Kecup sayang buat dua gadis kecilnya. Awas ya kalau ketemu nanti. Jangan dekat-dekat, nanti saya bawa pulang, hehehe.

  Buat yang masih penasaran dan pengen tahu lebih banyak tentang perenting untuk anak kembar, boleh langsung hubungi Wiwid di media sosial berikut: 
  • Blog : www.mykirakara.blogspot.com
  • Facebook : Wiwid Wadmira
  • Twitter : @wiwidwadmira
  • Instagram : wiwidwadmira 
  • Linkedin : Wiwit Rahayu

7 comments:

  1. buahahahaha. boleeh mbak diculik, jangan lupa dikembaliin yaa... Lumayanlan ada yang dititipi kalo lagi mau kabur berdua bapaknya. Terima kasih do'anya *peluk mbak Inna*

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahahahaa
      aamiin, iya masama mba wid *peluk balik*

      Delete
  2. waaah kayaknya saya baru berkunjung kesini ya padahal satu kelompok...duh jadi penin punya anak kembar..anak satu aja butuh kesabaran apalgi langsung kembar ya..mba wiwid keren...

    ReplyDelete
    Replies
    1. helow mba widhie :D
      iya, mba wiwid emang keren

      Delete
  3. waah serunya punya anak kembar,mau atulaah ..
    salam kenal mba wiwid :D

    ReplyDelete
  4. Saya salut dengan ibu2 yang terbiasa kerja dan memilih menjadi staf mom at home. Proses adaptasi tentu tak mudah. Semangat untuk mba Wiwid :)

    ReplyDelete
  5. Iya ya mba.. jadi orang tua sama saja jadi guru. Guru kehidupan malah.. hihi... sukses selalu untuk Mba Wiwid

    ReplyDelete

Mohon meninggalkan berkomentar yang sopan.
Komentar dengan link hidup akan saya hapus.

Terima kasih ^_^