Friday, April 1, 2016

Delapan Hari Terakhir


Perlahan aku membuka mata. Pusing sekali. Rasa ngilu berdenyut di belakang kepala yang tertutup perban. Di mana aku? Oh, di rumah sakit. Sekuat tenaga kutahan agar tidak pingsan lagi. Entah sudah berapa kali aku pingsan. Setiap membuka mata dan rasa pusing tidak tertahankan, pandanganku menjadi gelap.

Kulirik ke samping tempat tidur. Menoleh sedikit saja membuatku semakin pusing. Dia ada di sana. Bapa, suamiku tercinta. Melihat aku sudah sadar, Bapa langsung menarik tempat duduknya ke samping tempat tidur. Digenggamnya tanganku dengan erat. Tangan yang satu lagi mengusap rambutku. Aku lupa apa saja yang Bapa katakan karena aku sedang berjuang untuk tetap sadar. Lebih baik kupejamkan mata saja. Daripada memandang langit-langit kamar dan segala perabotannya yang berputar.

Peristiwa itu terjadi pada tahun 2008 di Bogor. Aku jatuh terpeleset di rumah sendiri. Kepala membentur lantai dan mengeluarkan darah, lalu muntah-muntah. Ketika dibawa ke IGD dan diperiksa CT Scan, aku didiagnosis terkena gegar otak ringan. 

Saat kejadian, aku masih punya dua anak. Beruntung si sulung Dilshad yang berusia 5 tahun bisa membuka pintu rumah dan meminta pertolongan pada tetangga. Bapa yang sedang berada di kantor juga segera pulang untuk membawaku ke rumah sakit. Selama aku diopname dan Bapa menemani di rumah sakit, Dilshad dan adiknya Rasyad yang masih bayi diasuh oleh Mamah mertua (sekarang sudah almarhum). 

Selama tiga hari tergolek lemah di rumah sakit, aku selalu memikirkan kematian. Apa yang terjadi jika aku tiada? Bagamana Bapa dan anak-anak nanti? Aku gelisah. Sekaligus pasrah. Jika memang saat ini aku harus mati, aku ikhlas. Aku bahkan ikhlas jika Bapa menikah lagi dengan orang lain sebagai pengganti diriku dan sebagai ibu untuk anak-anak. 

Kuutarakan kegelisahan hatiku pada Bapa, “Kalau aku mati... kamu nikah lagi, ya.” 

“Kalau kamu mati...” 

Bapa mendekatkan tubuhnya dan menggenggam tanganku, “...ya dikubur.”

Aku tidak bisa tertawa. Jika badanku berguncang, kepalaku semakin pusing. Sementara Bapa hanya tersenyum jahil menatapku.

***

Dekat dengan kematian. Setelah peristiwa itu, aku semakin sadar bahwa kematian bisa datang kapan saja. Aku dan Bapa juga kerap berdiskusi tentang hal ini. Tentang bagaimana jika salah satu dari kami meninggal lebih dulu.

“Sekarang lega. Sudah ada toko obat. Kalau ada apa-apa sama aku, kamu masih punya toko,” kata Bapa saat kami baru mengontrak toko untuk tempat usaha. 

Bapa sudah memikirkan sumber penghasilan kedua untuk menghidupi keluarga. Jika beliau sebagai pencari nafkah utama sudah tiada, aku bisa menjadikan toko obat kami sebagai sumber biaya hidupku dan ketiga anak kami.

Begitu pula jika aku yang dipanggil lebih dulu. Life must go on. Anak-anak membutuhkan sosok seorang ibu. Bapa sebagai seorang laki-laki membutuhkan istri sebagai pendamping hidup. Jika aku tiada, aku rela ada sosok perempuan lain yang hadir menggantikan peranku.

Bagaimana jika kita mengetahui waktu hidup tinggal delapan hari lagi? Delapan hari menuju kematian. Jika waktuku tinggal delapan hari lagi untuk hidup di dunia ini, aku ingin melakukan delapan hal berikut ini: 

1. Berdiskusi dengan suami

Aku mencurahkan segala perasaan kepada Bapa. Menceritakan sisa usiaku yang sebentar lagi berakhir. Kami akan berdiskusi. Rencana apa saja yang akan dijalankan setelah aku pergi nanti. 

2. Memperbanyak ibadah

Ya Allah, pada sisa waktu yang tidak lama ini, ijinkan aku untuk memperbanyak taubat dan ibadah kepada-Mu. Shalat lima waktu tetap dijalankan seusai adzan berkumandang seperti biasa. Shalat sunat dan membaca Al Quran lebih dipersering lagi. Insya Allah hati menjadi tentram dan siap untuk meninggalkan dunia yang fana.

3. Berpamitan

Kedua orangtuaku sudah bercerai. Papi dan Mami berpisah setelah aku menikah. Kini Papi tinggal di Cikampek dan Mami tinggal bersamaku. Jika sempat, aku akan pergi mengunjungi Papi untuk terakhir kalinya.

Mengunjungi saudara dan teman dekat tidak sempat kulakukan. Aku akan menghubungi kakak dan adikku lewat telepon. Begitu pula dengan keluarga suami di Ciapus dan teman-teman dekat semasa aku bersekolah. 

Bukan aku tidak mau datang berkunjung. Aku takut mereka semua menjadi sedih mendengar sisa hidupku tinggal beberapa hari lagi. Aku tidak mau membuat orang lain cemas. Saat bersilaturahim, aku akan berpamitan dengan meminta maaf atas segala perbuatan yang pernah kulakukan.

Berpamitan pada teman-teman di dunia maya kulakukan dengan membuat status terakhir berupa permintaan maaf. Tidak lupa, aku akan berikan semua password media sosial kepada Bapa untuk menghapus semua akun jika aku sudah tiada nanti.

4. Mengurus tabungan, hutang, dan sedekah

Tabungan milik anak-anak dan keluarga disimpan di bank atas namaku. Aku akan mencairkan deposito keluarga. Tidak ketinggalan menutup tabungan pribadi hasil keringatku sendiri dari berjualan bros dan menulis di blog. Semua uang tersebut akan kutranfer ke rekening milik anak-anak. Jadi, Bapa cukup berurusan dengan satu bank saja jika hendak mengambil uang.

Melunasi hutang. Alhamdulillah, saat ini aku tidak punya hutang. Sesekali berhutang ke Mbak Sayur langganan karena aku sering memesan belanjaan lewat telepon saat sedang jaga toko. Jadi, aku akan melunasi hutangku jika ada.

Memberikan sedekah kepada anak yatim dan warga yang kurang mampu di kampung. Sedekah berupa uang dari tabungan hasil keringatku sendiri. Mudah-mudahan pemberian tersebut bisa bermanfaat bagi orang lain.

5. Mencetak beberapa postingan blog yang penting

Blog kugunakan sebagai rekam jejak perjalanan hidupku bersama keluargaku. Jika aku tiada, maka berakhir pula kiprahku di dunia blog. Aku tidak ingin merepotkan keluarga untuk urusan perpanjaangan domain atau perawatan blog. 

Supaya kenangan tetap ada, aku akan mencetak beberapa postingan blog yang penting. Dikumpulkan dan dijilid seperti sebuah buku. Dengan demikian, kapan saja Bapa dan anak-anak bisa membaca tulisanku dan melihat betapa besarnya rasa cintaku terhadap mereka.

6. Masak hidangan istimewa untuk keluarga

Aku suka memasak. Jelang hari terakhir dalam hidup ini rasanya ingin kupersembahkan hidangan istimewa buatan sendiri dengan penuh cinta. Semoga kenangan akan masakanku yang lezat akan membekas di benak Bapa dan anak-anak.

7. Relaksasi diri

Aku harus tenang dan butuh relaksasi. Selain dengan beribadah, aku akan berdandan cantik supaya hati senang. Memasang senyum manis. Menikmati detik-detik terakhir yang berharga. 

8. Berkumpul bersama di hari terakhir

Pada hari terakhir, aku ingin Bapa dan anak-anak berada di dekatku. Aku ingin merekalah yang terakhir kali aku lihat sebelum menutup mata untuk selamanya.

Rahasia umur ditangan Allah SWT. Kita tidak bisa menolak takdir jika ajal menjemput lebih cepat. Oleh karena itu, kita harus siap menghadapi kematian kapan pun juga.



5 comments:

  1. Kebersamaan akhirnya yang paling diharap, yaa..

    ReplyDelete
  2. Minta maaf ya Mbak sama orang sekitar, jika ada terselip kesalahan

    ReplyDelete
  3. sama mbak, aku jg mgkin lbh bnyak ngabisin waktu bareng keluarga. merekam baik2 senyum bahagia di wajah mereka.

    ReplyDelete
  4. keluarga selalu dinanti dan diharapkan menjelang kematian ya mbak, semoga kita semua mati dalam keadaan baik aamiin

    ReplyDelete
  5. aaaahh peluukk Mak Ina, sehat2 mak.. Terimakasih tulisannya ya Mak, Melimpah berkah segala urusannya,, aamiin

    ReplyDelete

Mohon meninggalkan berkomentar yang sopan.
Komentar dengan link hidup akan saya hapus.

Terima kasih ^_^