Thursday, March 17, 2016

Bidadari dari Bulan


Bidadari dari bulan adalah arti dari nama saya, Riana Wulandari. Alkisah, ketika Mami sedang mengandung saya, beliau bermimpi pergi ke bulan dan bertemu seorang bidadari cantik. Jadilah nama itu. Riana berarti bidadari. Wulan berarti bulan. Panggilannya? Boleh Riana atau Inna. Kenapa Inna, kok bukan Anna? Karena Anna sudah dipakai duluan oleh sepupu saya. Jadi, Inna sebagai nama panggilan rasanya masih nyambung dengan Riana.

"Wah, bakal jadi orang hebat kamu!"

"Kamu bakal sukses!"

"Kamu pasti nanti jadi kaya!"

Almarhumah Embah kerap berkata begitu tentang makna mimpi dan arti nama saya. Sebagai orang Jawa tulen, beliau masih percaya hal seperti itu. Benarkah? Apakah saya sekarang sukses seperti makna mimpi yang membawa seseorang terbang tinggi ke bulan? Apakah saya menjadi kaya dan sukses? Apakah saya tumbuh secantik bidadari?


bidadari dari bulan

Bukan itu.Ternyata, Tuhan memberikan jalan hidup sesuai dengan nama saya. Saya memang tidak tumbuh menjadi gadis cantik. Saya sekarang juga tidak hidup kaya raya dan bergelimang harta. Bahkan saya tidak punya karir sukses yang bisa dibanggakan. Jadi? Apakah saya sudah menjadi bidadari? Simak cerita perjalanan hidup saya berikut ini. 

Pengalaman hidup yang cukup berliku, naik-turun gelombang emosi membuat saya sadar akan kerasnya kehidupan. Kejadian tidak menyenangkan pada masa lalu menempa saya menjadi pribadi seperti sekarang ini. 

Jika ingin menyalahkan seeorang mengapa nasib saya bisa seperti ini, mungkin saya akan menyebut satu nama. Saya diperlakukan tidak adil dan tumbuh menjadi pribadi yang gamang. Susah payah saya mencari jati diri tanpa dampingan siapa pun. Saya sadar, ada yang salah dalam diri saya. Oleh karena itu saya berniat sungguh-sungguh untuk mencari tahu penyebabnya dan 'menyembuhkan' diri sendiri.

Berhasilkah saya? Alhamdulillah, berhasil! Saya memilih jurusan kuliah yang ada pelajaran psikologinya. Saya gagal diterima di Psikologi Univeristas Indonesia. Pilihan kedua UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri) membawa saya untuk kuliah di Jurusan Kesejahteraan Sosial Universitas Padjadjaran Bandung.

Oia, sebelum kuliah, saya menghabiskan 15 tahun pertama dalam hidup saya di sebuah kota kecil di Jawa Barat. Tepatnya di sebuah kawasan industri di Cikampek. Beruntung, lingkungan yang tertutup dan ketat membuat masa kecil saya jauh dari pengaruh narkoba. Jika saya dibesarkan di tempat lain, belum tenrtu saya bisa selamat dari narkoba yang kerap mengincar anak-anak 'bermasalah' seperti saya.

Saya tumbuh menjadi anak pendiam yang tertutup. Saya tidak berani berteman terlalu akrab dengan seseorang. Teman itu tidak tulus. Karena saya berasal dari keluarga yang berkecukupan, banyak teman yang sekedar memanfaatkan saya alias datang kalau ada maunya saja. Meski demikian, beberapa teman masa kecil masih tulus menjadi sahabat saya hingga sekarang karena komunikasi yang baik.

Masa SMA saya habiskan di Jakarta dengan tinggal bersama Embah di Bekasi. Masa-masa tersebut adalah masa yang paling membahagiakan karena saya berhasil menjauh dari sesuatu yang disebut 'rumah'. Ditambah kuliah di Bandung, saya merasa hidup bebas bak burung lepas dari sangkar.

Tinggal di Bandung membawa saya pada hidup yang penuh warna. Saya mulai berani bergaul meski tetap tidak punya banyak teman. Saya mengenal cinta dan berjuta perasaan yang ada di dalamnya.

Kota Bandung juga yang menjadi tempat pertemuan saya dengan sang jodoh tambatan hati. Adalah teman satu fakutas yang sudah saya kenal sejak masa OSPEK. Kemudian kami lama tidak bertemu karena saya menjalin hubungan dengan mahasiswa lain. Setelah saya putus, kira-kira tiga tahun kemudian, kami bertemu kembali. Jelang kelulusan kami berdua akhirnya menjadi sepasang kekasih.

Sang pujaan hati sudah lulus kuliah. Saya belum. Saya malas. Saya sengaja memperlambat skripsi saya supaya tidak cepat-cepat lulus. Saya segan kembali ke tempat bernama 'rumah'. Sudah enak di Bandung. Tapi akhirnya, saya lulus juga setelah enam tahun kuliah. Lama ya...

Lulus kuliah dan sempat menganggur membuat saya lumayan frustasi. Saya putuskan mengambil aneka les dan tinggal di Bekasi lagi bersama Embah. Ketika diterima kerja di sebuah bank asing swasta, saya tetap tinggal bersama Embah.

Embah. Wanita tua itu adalah segalanya buat saya. Hanya Embah satu-satunya yang mengerti saya. Beliau tahu apa yang saya alami. Kami berdua punya kesamaan. Sama-sama disakiti oleh orang yang sama. tentang Embah bisa dibaca di sini.

Kembali tentang perjalanan hidup saya. Pada tahun 2002, saya berhenti kerja dan menikah. Usai menikah, saya langsung diboyong ke Semarang, tempat suami bekerja. Sejak itu, hidup saya berubah menjadi sangat indah.

Saya dan suami saat menikah

Waktu kecil, saya pernah bercita-cita ingin pergi jauh dari 'rumah'. Pergi ke mana saja deh, yang jauh sekalian. Lebih bagus lagi kalau bisa ke luar negeri. Bersama suami yang memiliki pekerjaan berpindah-pindah tempat tinggal, saya bak hidup berpetualang. Meski cuma di dalam negeri, tapi buat saya itu sudah luar biasa.

Jujur, awalnya saya takut untuk berumah tangga. Saya tidak tahu apakah saya bisa punya suami dan anak-anak. Pengalaman masa kecil membuat saya sempat mengambil keputusan untuk tidak menikah. Untuk apa menikah? Untuk saling menyakiti? Lebih baik hidup sendiri saja! 

Saat bulan madu di Bali

Bertemu suami (saat itu masih calon), pendapat saya mulai goyah. Saya jatuh cinta pada kepribadiannya dan yakin bahwa dia tidak akan menyakiti saya. Bersamanya, saya menemukan sosok imam peminpin keluarga yang baik. Itulah sebabnya saya mau menjadi pendamping hidupnya.

Hidup berumah tangga di tanah rantau membuat saya sangat bahagia. Satu per satu buah hati kami lahir dan menambah ceria suasana. Anak pertama, Aa Dilshad lahir di Banjarmasin. Anak kedua, Kk Rasyad lahir di Bogor. Dan si bungsu Dd Irsyad lahir di Palangkaraya.  Kami hidup seperti dalam petualangan. Seru!

Saat tinggal di Bali

Jalan-jalan ke Toraja

Anak-anak saat jalan-jalan di Bandung

Dan akhirnya kebahagian sebagai keluarga gipsy harus berakhir. Pada tahun 2011, Suami mendapat pekerjaan menetap di Jakarta. Kami tinggal di Bogor bersama Mami. Saya membuka usaha toko obat untuk membantu penghasilan suami. Saya juga merintis usaha aksesoris handmade yang dijual secara onlien maupun titip jual ke toko pakaian milik tetangga. Ditambah semakin rajin menulis blog, kegiatan saya pun mulai bervariasi. 

Rumah di Bogor yang dibeli saat kami masih di rantau sebelumnya ditempati oleh mami. Pasca bercerai dengan Papi, Mami menempati rumah kami. Kembali ke Bogor berarti tinggal bersama Mami. Mulai saat itu, hari-hari penuh drama pun dimulai...

Tinggal bersama seseorang yang mengingatkan kembali 'rumah' membuat saya mengalami kemunduran mental. Ya, saya adalah wanita dewasa berusia tiga puluhan tahun. Namun kejiwaan saya rasanya hampir sama seperti saya waktu kecil dulu! Trauma masa lalu hidup kembali. Ketakutan-ketakutan saya muncul.

Saya berjuang mati-matian untuk berperilaku berbeda di depan Mami dan anak-anak saya. Di depan anak-anak saya harus menjadi ibu yang kuat dan tegas. Namun dihadapan Mami saya harus jadi pribadi rapuh yang menyerah. pada segala keadaan dan seluruh perintahnya. 

Tiada hari tanpa drama. Selalu saja ada keributan yang dibuat-buat. Saya lelah. Namun, kepada siapa lagi Mami harus menggantungkan hidupnya? Kakak saya sudah repot mengurus keluarga suaminya. Adik saya masih merintis dalam kehidupan berumahtangganya. Sebenatnya, Adik mau mengajak Mami untuk tinggal bersamanya. Apa daya, Mami mengancam lebih baik bunuh diri daripada tingga bersama Adik.

Kenapa Mami tidak mau tinggal bersama Adik? Toh memang seharusnya orangtua itu tanggung jawab anak laki-laki. Adik saya adalah anak laki-laki satu-satunya. Sayang, Mami tidak cocok dengan sang menantu, yaitu istri Adik. Tinggal bersama saya itu bebas merdeka. Saya memang tidak secerewet dan setegas Kakak dan Adik saat mengatur pola makan Mami yang amburadul. Mami bilang, jika saya ikut-ikutan cerewet, lebih baik Mami mati saja! Akhirnya, saya membebaskan Mami makan apa saja padahal beliau punya penyakit diabetes dan komplikasi lainnya.

Hidup bersama orangtua dengan kepribadian khusus itu tidak mudah. Bukan kesabaran ekstra lagi yang dibutuhkan. Keikhlasan adalah faktor terpenting. Poin tambahan untuk saya lagi adalah kekuatan memaafkan. Ya, saya sudah memaafkan segala peristiwa pada masa lalu. Memaafkan ya, bukan melupakan. Jangan tanya bagaimana hidup saya sekarang yang kembali didatangi oleh mimpi buruk dengan tokoh monster yang sama. Saya berjuang. Melawan semuanya. Demi apa? Demi anak-anak saya.

Ya, saya tidak ingin anak-anak saya tumbuh menjadi seperti saya. Punya masalah di masa lalu yang menghambat berkembang di masa mendatang. Saya sempat berpikir, andai kejadian-kejadian buruk itu tidak menimpa saya, mungkin saya akan menjadi pribadi yang sukses dan jadi wanita karir yang hebat! Andai saya tidak bodoh, saya kuliah di jurusan beken dan tidak akan bertemu dengan calon suami saya sekarang ini. Artinya, saya tidak akan mengurus Mami! Nasib Mami justru tidak akan jelas karena tidak ada anak yang menampungya.!

Berkat suami yang ikhlas dan berhati besarlah, Mami hidup bersama kami dan makan bersama rejeki yang kami terima. Tanpa suami, saya tidak akan kuat melewati hari-hari penuh drama bersama Mami. 

Jadi, kembail ke bidadari dari bulan. Ternyata, nama itu bisa menjadi takdir hidup. Saat dalam kandungan, dalam mimpi Mami, saya yang ada di dalam perut Mami mengangkat Mami terbang ke bulan. Dalam dunia nyata, sayalah yang sekarang 'mengangkat' hidup Mami. Tanpa saya, entah apa yang akan terjadi pada Mami. Lalu, bidadari itu siapa? Saya memang tidak secantik bidadari, namun mungkin hati saya bisa diibaratkan secantik bidadari. 

Bukan maksud untuk memuji diri sendiri. Namun begitlah kenyataannya. Beberapa teman, saudara, bahkan tetangga yang tahu seperti apa keseharian saya di rumah bersama Mami aan tahu seperti apa cobaan yang sedang dijalani oleh saya dan keluarga kecil saya ini. Alhamdulillah, Allah Maha Adil. Keluarga kami diberi limpahan berkah dalam bentuk rejeki yang selalu cukup untuk hidup kami sekeluarga. 

Keluarga kami tidak sama seperti keluarga lain yang punya kebebasan. banyak aturan dirumah yang tidak sama seperti di rumah lain. Sebagai anak, saya hanya bisa pasrah. Berharap semoga ada keajaiban yang mengubah sifat Mami menjadi lebih baik pada akhir sisa hidupnya. 

Kenapa saya bisa kuat? Saya bisa kuat berkat dukungan suami dan orang-orang terdekat yang pedulai pada saya. Disamping itu, untuk menjaga kewarasan, saya menulis. Saya rajin menulis di tiga blog saya supaya pikirin tidak melantur. Maunya sih, saya menulis buku solo. Saya sudah pernah ikut proyek buku antologi. Rasanya penasaran ingin punya buku sendiri. Entah novel atau kisah non fiksi lainnya. Mudah-mudahan suatu sat bisa terwujud.


Buku antologi pertama saya
Nah, itu tadi kisah perjalan hidup saya. Kali ini saya mau komen soal Mbak Ika yang mengadakan Bunda FinAufaRa 1st Giveaway. Saya mampir ke blog Mbak Ika dan menandai bookmark pada salah satu postingannya yang berjudul "Cara memasang badge Klout Score di Blog". Lama tidak dikerjaakan, akhirnya saya baru sempat eksekusi bebapa minggu yang lalu. Langsung mejeng deh klout Score di ketiga blog saya. makasih ya Mbak :)

Buat Mbak Ika yang berulang tahun hari ini, selamat ulang tahun ya. Semoga berkah dunia akhirat, makin sukses menerbitkan banyak buku, aaminn. 

4 comments:

  1. Mb Inna memang bidadari kok...selain buat Ibunda tentunya jadi bidadari untuk suami dan putra2 mb Inna.
    Terima kasih sudah menuliskan sejarahnya..pengalaman hidupnya yang bisa jadi pelajaran buat saya juga.
    Terima kasih sudah ikut meramaikan GA saya ya mbak ;)

    ReplyDelete
  2. Setiap manusia akan diuji dengan ujian yang berbeda2 ya Mba. Mba Inna keren bisa lulus dan naik kelas. Barakallahu ��

    ReplyDelete
  3. Mak Inna tetap bidadari buat suami dna 3 boys pastinya. Dan beruntunhlah mak bisa ngurusi mami dihari tua pahalanya mengalir deraa setiap saat :)

    ReplyDelete
  4. Pas nikah cantik bgt mak..

    Dirumah pastinya secantik bidadari buat anak2 dan suami ya mak..kan cewek sendiri,,

    ReplyDelete

Mohon meninggalkan berkomentar yang sopan.
Komentar dengan link hidup akan saya hapus.

Terima kasih ^_^