Monday, February 29, 2016

Belajar Menulis Novel Bersama Smart Writer


Sejak kecil, boleh dibilang saya ini tukang ngelamun. Saat sedang sendiri, khayalan saya berkelana ke mana saja. Ketika di perjalanan, saya yang susah tidur di kendaraan ini lebih suka melihat pemandangan sambil melamun. Paling sering, saya melamun tentang kehidupan. Mempertanyakan, untuk apa dan mengapa Tuhan menciptakan saya di dunia ini. Waduh, kecil-kecil sudah berpikir seserius itu. Tapi, kenyataannya memang demikian.

   Sesekali, saya mengarang cerita. Cerita apa saja. Misalnya, ketika sedang melintas di hutan karet di daerah Purwakarta. Saya membuat cerita tentang seorang putri yang melarikan diri dari kejaran penjahat. Bayangan sang putri yang sedang berlari ketika mata menatap pohon karet yang berkelebat dari jendela mobil menciptakan suasana dramatis. Seru bukan?

   Ketika masih SD, saya pernah sedih karena kematian seekor anak kucing. Nana, nama anak kucing peliharaan saya, mati terlindas mobil. Nana sedang asyik menyusu dan terlambat menghidar dari roda mobil yang hendak parkir ke garasi. Papi saya tidak melihat ada Pussy, si ibu kucing, yang sedang menyusui anak-anaknya di lantai garasi. Nana langsung mati setelah tertabrak. Kami menguburnya di halaman belakang rumah.

   Setiap sore, saya mengunjungi makam Nana sambil membawa bunga. Tidak puas menangisi kepergiannya, saya menuliskan perasaan sedih itu menjadi sebuah cerpen. Cerpen pertama saya berjudul "Kucingku Nana". Cerpen tersebut kemudian di bawa ke kantor Papi. Papi meminta anak buahnya untuk mengetikkan cerpen tersebut lalu dikirim ke Majalah Bobo. Sayang, cerpen saya tidak dimuat. Sejak itu, saya tidak mau menulis cerpen lagi.

   Sampai suatu hari, ketika ada rasa sedih menyesakkan dada. Saya menulis cerpen lagi. Cerpen kedua berjudul Janji Si Gadis Kecil ditulis pada bulan Juni 2015 di akun Kompasiana. Cukup lama juga ya vakumnya. Mungkin 30 tahun lebih!

   Sibuk dengan aktivitas rumah tangga, blogging, dan jualan, saya berhenti menulis cerpen. Saya sadar, banyak yang harus dipelajari sebelum membuat cerpen lagi. Jujur, saya bingung harus belajar dengan siapa dan di mana. Saya cuma asal menulis saja. Barangkali tanda baca masih salah, saya tidak tahu karena tidak ada yang memberi tahu.

   Cerpen berikutnya ditulis pada bulan Januari tahun ini. Berkat ajang giveaway Mbak Maya Siswadi yang meminta peserta untuk membuat cerpen. Cerpen tersebut harus berupa ending dari empat cerita bersambung yang ada di blog Mbak Maya. Saya tertantang untuk menulis cerpen lagi. Jadilah cerpen ketiga yang berjudul Pembuktian Cinta #lovestory5. Cerpen saya tidak menang. Tapi saya senang. Saya bisa berlatih membuat cerpen.

   Belajar bikin cerpen sama dengan belajar menulis fiksi. Sebenarnya, target saya tahun 2016 ini adalah belajar menulis fiksi. Ada niat untuk mengisi blog ini dengan aneka cerita yang selama ini cuma berseliweran di kepala saya. Sebagai tukang ngelamun, cerita karangan saya itu sepertinya sudah terlupakan semua karena tidak buru-buru ditulis. Sayang ya...

   Menyenangi dunia menulis, rasanya wajar jika ada keinginan mempunyai buku sendiri. Sudah lama saya bermimpi punya buku yang berisi tulisan saya sendiri. Buku solo. Kenapa buku? Karena buku adalah rekam jejak tulisan kita. Tulisan berisi pemikiran kita yang tetap awet meski fisik kita sudah tidak ada di dunia. Buku bisa menjadi warisan kepada anak cucu di kemudian hari.

   Pada akhir tahun 2014 kemarin, saya melonjak kegirangan ketika buku antologi saya diterbitkan! Buku berjudul Heart Ring, Ketika Hati Saling Memiliki. Buku antologi ini berisi kumpulan tulisan dari beberapa blogger yang tergabung di komunitas Warung Blogger. Saya akhirnya punya buku! Ini membuat saya seolah melambung ke langit. Norak ya! Biarin! 


Buku antologi pertama

   Punya buku antologi saja rasanya seperti ini, bagaimana nanti jika punya buku sendiri ya? Duh, pengen banget! Nah kebetulan saya baca ada giveaway dari Smart Writer. Giveaway ini memberikan hadiah pelatihan novel gratis! Wow, saya ingin sekali bisa menulis novel! Apalagi dibimbing oleh dua mentor Smart writer yang namanya sudah tidak asing lagi, yaitu penulis novel yang karyanya sudah bejibun, Mbak Leyla Hana dan Riawani Elyta.

   Beruntung, saya sempat bertemu langsung dengan Mbak Leyla Hana pada suatu acara kopdar di Bogor. Sering mengunjungi blognya membuat saya kagum pada sosok sakti yang satu ini. Lho, kok sakti? Iya dong. Senasib dengan saya yang riweuh dengan tiga anak laki-laki, Mbak Leyla ini kok ya bisa-bisanya produktif menulis novel dan masih aktif ngeblog juga? Hmm...perlu semedi eh berguru lebih jauh nih pada Mbak Leyla.

Mbak Leyla dan saya

Sebagian karya Mbak Leyla

  Mentor satu lagi adalah Mbak Riawani Elyta. Meski sudah saling follow di Twitter, saya baru sempat main ke blognya beberapa hari terakhir ini. Aduh, maaf ya Mbak, saya kuper banget. Lalu singgah pada satu postingan yang sukses membuat saya terharu dan menangis. Aih, saya mengerti betul bahwa untuk menulis kisah tersebut perlu mental yang kuat. Salut untuk Mbak Riawani.
Mbak Riawani Elyta
Karya Mbak Riawani

   Kisah yang serupa tapi tak sama juga saya alami. Beberapa potongan cerita kejadian di masa lalu kerap muncul dalam ingatan saya. Selama ini, semua potongan cerita terasa berat menggelayuti pikiran. Saya ingin sekali bisa menuangkannya menjadi sebuah novel. Bukan untuk bermaksud menghakimi seseorang atau bahkan minta simpati. Saya hanya ingin berbagi. Tujuannya, jika ada pembaca yang mengalami 'gejala' yang sama, segeralah memperbaiki diri sebelum terlambat. 

   Karena saya tidak tahu cara menulis dengan baik, saya ingin sekali bisa belajar menulis novel bersama Smart Writer. Jika novel impian saya berhasil diterbitkan, saya akan menyimpannya untuk kelak dibaca oleh ketiga anak saya saat dewasa nanti. Sebuah novel sebagai warisan. Saat ini mereka masih kecil, belum mengerti situasi sulit yang sedang saya hadapi. Semoga kelak mereka bisa memahami apa yang terjadi pada saya dan betapa besarnya rasa cinta saya kepada mereka. 




12 comments:

  1. Semoga terwujud keinginannya, Mbak. Sy juga pengin nulis novel :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih, mba. semoga keinginan kita berdua bisa tercapai,aamiin

      Delete
  2. Hihihihi, kok sama ya? Saya sejak asyik jualan online orderan alhamdulillah banyak terus nulisnya absen, blog aja sampe gak dijamah. Ini mau mulai aktif lagi. Kata Rosihan Anwar menulis dan membaca itu membantu otak tetap tajam dan awet muda. :)

    Salam kenal dari Pemalang.

    ReplyDelete
  3. goodluck lombanya Mbak dan semoga keinginannya menulis novel segera terwujud, amin..

    ReplyDelete
  4. mak Inna... hobi kita sama, sama2 suka ngelamun hehe

    ReplyDelete
  5. semoga terwujud impian untuk bikin novel, ya :)

    ReplyDelete
  6. wuihiii lanjutkan bak inna, aku mau nulis buku belum mulai2 nih

    ReplyDelete
  7. Semoga lekas terwujud impiannya mbak, dan disemoga dipermudah jalannya :)

    ReplyDelete
  8. Semoga segera terwujud mbak impiannya

    ReplyDelete
  9. semoga tercapai keinginannay belajar nulis dari para penulir keren :)

    ReplyDelete

Mohon meninggalkan berkomentar yang sopan.
Komentar dengan link hidup akan saya hapus.

Terima kasih ^_^