Saturday, October 4, 2014

Silaturahmi Rahasia

Hari kedua Idul Fitri 2014. Pagi menjelang siang, saya dan suami berserta anak-anak berangkat ke Depok untuk bertemu Eyang di rumah kakak saya. Tahun ini, Eyang merayakan Lebaran di Depok. Biasanya, Eyang selalu ikut merayakan Lebaran di rumah mertua saya di Ciapus. Setelah bermaaf-maafan dan menikmati hidangan yang disediakan oleh tuan rumah, kami pamit pulang. Sedikit merasa tidak enak juga karena kami hanya singgah sebentar.

"Kok buru-buru amat? Kan masih pagi."

"Iya. Masih ada sodara yang belum didatengin."

"Oh gitu..."

Pembicaraan ini dilakukan di depan Eyang. Andai saya hanya berdua dengan kakak saya, maka jawabannya akan lain. Ya, saya terpaksa berbohong. Saya berbohong untuk menjaga perasaan Eyang. Eyang tidak akan suka jika tahu siapa yang akan kami kunjungi sepulang dari Depok. Kami akan menemui Aki, ayah saya, mantan suami Eyang. Ini adalah hari di mana semua sanak saudara berkumpul dan bersilaturahmi. Salahkah jika saya ingin menemui ayah kandung saya sendiri?

Kami melanjutkan perjalanan. Bukan kembali ke Bogor seperti yang saya katakan untuk berjumpa saudara, melainkan masuk ke jalan tol Jagorawi. Setelah melewati jalanan yang macet, akhirnya kami sampai juga ke kota tujuan. Kami beristirahat di masjid pinggir jalan untuk shalat dhuhur. Sebelumnya, kami sudah berhenti sejenak untuk makan siang di rest area di jalan tol. Saya kemudian menelpon Aki. Memberi tahu bahwa kami akan tiba sebentar lagi.

Siang yang panas menyambut kedatangan kami di kota kecamatan tempat saya dibesarkan. Setiap singgah, saya selalu terkagum-kagum dengan kemajuan pesat pembangunan di kota kecil ini. Jalan yang lebar dan bagus. Juga bangunan megah pertokoan dan mall di tempat yang sebelumnya adalah sawah. Luar biasa!


Aki bersama saya dan anak-anak
Tidak lama kemudian, kami sampai di rumah Aki. Aki menyambut kami di depan pintu. Saya terkejut melihat tubuh beliau yang kini jadi kurus. Aki habis menjalani operasi beberapa bulan yang lalu. Saat itu, saya juga tidak bisa menjenguk Aki di rumah sakit karena takut ketahuan Eyang. Gimana nggak ketahuan. Rumah keluarga saya dan rumah Eyang bersebelahan dengan pintu penghubung di bagian dapurnya. Jadi, semua gerak-gerik saya pasti terpantau oleh Eyang. Ke mana pun kami pergi, Eyang pasti tahu.

Silaturahmi terakhir dengan Aki adalah saat saya baru pulang merantau dari Makassar, hampir tiga tahun yang lalu. Sebelumnya, saat akan berangkat dari Bogor untuk merantau ke Palangkaraya, saya dan keluarga juga menemui beliau untuk berpamitan. Sebelumnya lagi, kami bertemu dalam suasana Idul Fiitri. Semua pertemuan itu tidak diketahui oleh Eyang. Kecuali yang terakhir. 

Kok bisa ketahuan? Anak-anak yang bilang. Meski saya sudah berbohong, tapi saya tidak mengajak anak-anak untuk ikut berbohong juga kepada Eyang. Akhirnya, ketahuan deh. Lalu bagaimana reaksi Eyang? Rasa marahnya masih ada sampai sekarang. Biarlah, ini menjadi hukuman buat saya.

Ada yang berbeda dengan silaturahmi kali ini. Saya memanfaatkan momen pertemuan ini untuk curhat habis-habisan. Meski jarang bertatap langsung, komunikasi antara saya dan Aki tetap berjalan lancar. Saya sering curhat lewat sms, telepon, dan kini watsapp. Mumpung lagi ketemu, nih. Semua 'unek-unek' yang saya rasakan sejak berhenti merantau pun saya tumpahkan. Hanya Aki yang bisa mengerti masalah yang saya hadapi, karena beliau sudah berpengalaman menangani situasi tersebut.

Silaturahmi berujung sesi curhat ini membawa saya pada pencerahan batin. Saya punya dugaan sendiri terhadap masalah yang saya hadapi, namun saya tidak berani memvonis langsung bahwa kesalahannya terletak di 'sini'. Lalu, Aki menceritakan suatu cerita yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Dari cerita tersebut, tiba-tiba saja saya merasa dugaan saya benar! Alhamdulillah.

Saya merasa lega luar biasa. Bahkan, saking senangnya, saya sampai tidak bisa tidur! Kata-kata Aki terus terngiang di kepala saya. Kesimpulan itu membuat saya seolah mempunyai 'senjata' jika masalah itu datang lagi. Dan benar saja, dua bulan kemudian, satu masalah hadir. Saya ingat perkataan Aki. Tiba-tiba, saya jadi berani menghadapi masalah tersebut secara langsung! Saya bahkan bisa memikirkan strategi pemecahannya dengan tepat! Subhanallah!

Begitulah cerita silaturahmi rahasia saya. Berkah silaturahmi berupa pencerahan batin. Andai saya tidak bersilarahmi dengan Aki saat itu, mungkin saya tidak akan bisa berpikir dengan jernih saat menghadapi masalah. Bahkan ketika merasa terpuruk, saya kini punya sumber semangat untuk bangkit dan tidak larut lagi dalam kesedihan.

Sejujurnya, saya tidak ingin silaturahmi rahasia ini terus berlanjut. Saya ingin silaturahmi ini bisa dilakukan dengan bebas, tanpa harus disembunyikan lagi. Semoga suatu saat nanti bisa terwujud. Untuk sementara, biarlah silaturahmi rahasia ini terus berjalan. Perpisahan antara kedua orang yang sudah menikah memunculkan istilah mantan istri dan mantan suami. Tapi, biar bagaimana pun juga, tidak ada yang namanya mantan anak. Silaturahmi antara orang tua dan anak tidak boleh terputus.




"GiveAway Indahnya Silaturahmi, Lavender Art"

7 comments:

  1. iya mak setuju mak inna, semoga tidak menjadi silaturahmi rahasia lagi :)

    ReplyDelete
  2. Jangan ada rahasia lagi ya mak...

    ReplyDelete
  3. Semoga kedepannya, hati eyang dipenuhi kelapangan dada utk memaafkan dan melupakan rasa sakit hatinya ya mbak...sehingga silaturahminya tdk rahasia-rahasia lagi..
    Terimakasih atas partisipasinya ya mbak

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah ya mak Inna, biar rahasia tapi masih bisa ketemu dan dapat ilmu lagi :)
    semoga ke depannya sesuai harapan mak Inna ya, biar gak rahasia lagi ^^

    ReplyDelete

Mohon meninggalkan berkomentar yang sopan.
Komentar dengan link hidup akan saya hapus.

Terima kasih ^_^