Monday, September 29, 2014

Adat Kakurung ku Iga

Saya duduk dengan perasaan tegang. Lantunan ayat-ayat suci Al Qur'an dibacakan oleh Pak Ustad. Jantung saya berdetak cepat. Proses ruqyah (pengusiran jin) sudah dimulai. Perasaan saya semakin campur aduk antara takut dan waspada. Ya Allah, apakah saya sanggup menahan tubuh Eyang jika beliau mengamuk karena kerasukan jin?

Eyang duduk dengan mata terpejam. Berada di sebelah Eyang membuat saya semakin gelisah. Sedangkan Bapa (suami saya) tetap duduk dengan tenang. Kenapa jadi gerah begini? Saya mulai berkeringat. Diantara kami berempat yang ada di ruang tamu, hanya saya yang merasa kepanasan. 

"Wahai saudaraku, bangsa jin yang ada di dalam sana. Apabila engkau sungguh ada di dalam tubuh Ibu ini. Maka keluarlah engkau dan jangan mengganggu beliau lagi!"

Saya terkejut. Suara Pak Ustad terdengar lantang dan tegas, seperti sedang marah. Saya mulai deg-degan. 

"Saya peringatkan sekali lagi! Keluar kamu dari tubuh Ibu ini! Keluar kamu dari pori-pori tubuhnya...."

Duh, saya mulai tidak konsentrasi. Saya tidak mendengarkan lagi. Saya takut sekali! Sebenarnya, sebelum ruqyah dimulai, saya ingin ada ibu tetangga yang ikut hadir. Tubuh saya yang ringkih ini tidak akan kuat menahan Eyang bertubuh gemuk. Saya butuh bantuan. Pasti saya terpental jika Eyang mengamuk. Bapa menolak, "Nggak usah. Nanti aku bantu pegangin Eyang."

Eyang tetap bergeming. Tidak ada reaksi, tidak meronta, tdak muntah-muntah, dan tidak mengamuk seperti dugaan saya.

Kenapa nggak ada reaksi,ya? Hmm... mungkin belum. Saya kembali mendengarkan Pak Ustad mengaji. Beberapa kali kalimat teguran di atas diucapkan di sela-sela bacaan Al Qur'an. Pertama, Pak Ustad mengucapkannya sambil duduk. Terakhir, Pak Ustad berdiri di samping Eyang dan memegangi kepala beliau. Ayat-ayat suci kembali dibacakan. 

Saya tidak bisa menceritakan tahap-tahap ruqyah karena saya tidak menyimak dengan baik. Saya terlalu tegang. Satu-satunya yang ada di pikiran saya adalah bagaimana nanti memegangi tubuh Eyang. Itu saja. Kalau masalah nanti ada jin yang meracau atau mengamuk, ya mungkin saya bisa hadapi. Saya kan, sudah terbiasa dengan amukan Eyang, hehe.

"Wahai saudaraku bangsa jin yang ada di dalam sana. Keluar kamu! Atau saya akan potong leher kamu!"

Tangan Pak Ustad masih ada di atas kepala Eyang. Sedangkan tangan yang satu lagi bergerak seolah akan memenggal leher Eyang! 

Ya Allah! Ini dia! Sekarang saatnya! Saya menegakkan badan. Mengambil ancang-ancang.

Lalu...

"Ibu tarik napas. Buang napas perlahan..."

Suara Pak Ustad berubah menjadi lebih lembut.

"Sekarang buka mata Ibu..."

Oh, rupanya ruqyah sudah  selesai. Sudah? Begitu saja? Terus, jinnya mana?

Ternyata, tidak ada jin di dalam tubuh Eyang. Alhamdulillah, saya lega. Tapi, jujur saya merasa sedikit kecewa. Lho, kok malah kecewa? Iya, itu artinya tidak ada perubahan terhadap perilaku Eyang. Artinya, Eyang akan tetap bersikap sama seperti sebelumnya. 

Eyang, ibu saya, adalah wanita yang mempunyai kepribadian spesial. Analisa Pak Ustad sebelum meruqyah Eyang: sifat spesial tersebut bisa disebabkan oleh pengaruh jin yang bersemayam di dalam tubuh beliau. Bagaimana jin bisa masuk ke tubuh Eyang? Diduga, ada jin yang hadir saat Eyang memanggil orang pintar untuk menyembuhkan beliau dari santet, sekitar dua puluh tahun yang lalu.

Mengapa Eyang diduga kerasukan jin? Karena, menurut Pak Ustad, lansia pada umumnya 'nggak gitu-gitu amat' tingkah lakunya. Sifat tersebut memang bukan sifat yang baik. Bahkan sudah merugikan diri Eyang sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Harapan saya dan Bapa, Eyang dijauhkan dari sifat-sifat buruk tersebut dan menjalani sisa hidupnya dengan tenang. Tanpa ada drama lagi.

Selesai ruqyah, terbukti tidak ada jin dalam tubuh Eyang. Lantas, dari mana semua sikap buruk itu berasal? Bapa bilang itu adalah 'adat kakurung ku iga'. Sebuah peribahasa Sunda yang artinya sikap buruk yang tidak bisa berubah. Biar bagaimana pun, sifat  buruk (adat) tersebut sudah mendarah daging (kakurung ku iga = terkurung oleh tulang iga). Jadi, watak Eyang yang spesial itu tidak akan bisa berubah *menghela napas*

Lantas, apakah saya akan menyerah menghadapi 'adat kakurung ku iga' ini? Tidak! Meski tidak bisa diubah, saya akan berjuang untuk mengurangi kadar 'kegawatannya' sedikit demi sedikit. Saya lelah menghadapi drama terus menerus. Hal kecil bisa menjadi masalah besar bagi Eyang.

Akhirnya, pada bulan puasa kemarin, saya memberhentikan Bibik, asisten rumah tangga (ART). Hanya kekuatan hati yang 'tahan banting' yang bisa membuat Bibik bisa bekerja selama tiga tahun. Berdasarkan pengalaman, ART yang lain cuma bertahan sebulan, tiga bulan, bahkan sepuluh hari! Yang terakhir bahkan minta berhenti sambil menangis tersedu-sedu pada suatu pagi. Saya baru tahu penyebabnya dari orang lain. Katanya, dia habis dimaki oleh Eyang pada malam sebelumnya. Ya sudah. Belum jodoh ya, Teh.

Saya memang nekad. Saya tahu resikonya mengurus dua rumah (rumah saya dan rumah Eyang bersebelahan), suami, tiga anak, dan satu orang tua tanpa ART. Padahal saya sendiri punya tugas mengelola toko dan warung obat serta membuat aksesoris handmade. Bulan pertama, saya kewalahan. Penghasilan toko menurun drastis. Saya hampir tidak pernah bertugas jaga toko akibat riweuh alias sibuk di rumah. Usaha membuat akseoris pun akhirnya mati suri.

Meski lelah mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga sendiri, saya tidak menyesal sudah memberhentikan Bibik. Saya merasa ini adalah terapi untuk Eyang. Dengan tanpa ART, peluang terjadi drama diperkecil. Emosi Eyang jadi lebih terkontrol. Gula darahnya tidak naik terus seperti saat masih ada Bibik. 

Perkembangan yang lebih menggembirakan adalah Eyang mau lebih banyak bergerak! Dulu, Eyang hanya duduk dan nonton tv seharian sambil makan. Berjalan kaki ke rumah saya hanya seminggu sampai sepuluh hari sekali. Sekarang, Eyang bahkan tiap hari mampir ke rumah saya! Alhamdulillah.

Bapa bilang, meski sudah 'adat kakurung ku iga', ada Allah Sang Maha Pembolak-balik Hati. Hanya Allah yang bisa mengubah sifat manusia. Banyak berdoa dan shalat malam. Memohon pada Yang Maha Kuasa agar Eyang dilembutkan hatinya. Agar sifat buruk beliau pergi jauh. Insya Allah. Saya akan terus berusaha. Hasil yang dicapai memang tidak bisa instan. Perlu proses panjang. Semoga saya berhasil mengubah 'adat kakurung ku iga' ini. Aamiin.


"Tulisan ini disertakan dalam 
kontes GA Sadar Hati - Bahasa Daerah Harus Diminati"



4 comments:

  1. iya mak... setiap kita meminta pada Allah, pasti akan Allah kabulkan, cepat atau lambat.

    ReplyDelete
  2. menarik nafas. sepertinya, harus lebih banyak menyediakan stok sabar ya mbak. enggak akan sia-saia kok, termasuk tetap sabar dalam do'a padaNya agar Eyang bisa berubah

    ReplyDelete
  3. Masya Allah, Mba Inna. Mba kuat banget ya. Semoga kesabaran Mba Inna dan bakti kepada ibu diberikan balasan yg terbaik oleh Allah SWT :)

    ReplyDelete

Mohon meninggalkan berkomentar yang sopan.
Komentar dengan link hidup akan saya hapus.

Terima kasih ^_^