Sunday, June 8, 2014

Sembuh Karena Cinta


Ruang NICU di RS Cipto Mangunkusomo Jakarta tampak lenggang. Beberapa minggu sebelumnya, ada empat bayi di ruangan ini. Mereka dirawat dalam inkubator karena penyakit yang sama. Konon, penyakit tersebut merupakan suatu wabah yang menyerang beberapa bayi baru lahir di tahun 1976. Hanya mukjizat dan kuasa Tuhan yang membuat bayi-bayi itu bisa bertahan hidup. 

   Akhirnya, hanya ada satu bayi di ruangan NICU. Ketiga bayi lain sudah ditakdirkan kembali ke pangkuan Yang Maha Pencipta. Kuasa Tuhan dan kekuatan doa dari kedua orangtuanya membuat bayi ini diberi kesempatan untuk bisa hidup dan tumbuh sampai dewasa.

   Bayi itu adalah saya. Ya, saya berhasil selamat dari maut. Karena peristiwa tersebut, ketahanan fisik saya tidak sama dengan anak-anak lain. Secara fisik, saya terlahir normal tanpa cacat. Namun daya tahan tubuh saya lemah. Saya mudah merasa lelah dan sering jatuh sakit. Meski demikian, saya tetap bisa beraktivitas seperti biasa seperti anak-anak lainnya.

  Waktu saya masih duduk di bangku SD, di buku rapor saya selalu tertulis keterangan sakit antara lima sampai empat belas hari dalam setiap catur wulan (dulu belum pakai sistem semester). Saat kuliah dan kost, saya juga sering sakit-sakitan. Bahkan saya sempat dirawat di RS Advent dan RS Borromeus yang ada di kota Bandung.

   Kemudian saya menikah dengan teman satu fakultas di PTN tempat saya kuliah. Sebelum menikah, calon suami dan keluarganya sudah tahu tentang kondisi badan saya yang mudah sakit ini. Syukurlah, mereka bisa memaklumi keadaan saya tersebut. Bahkan ibu mertua saya (almarhum) selalu mengkhawatirkan kondisi saya yang ikut merantau bersama suami. Namanya hidup merantau, pasti jauh dari sanak saudara, bukan? Beliau khawatir ada apa-apa dengan saya dan tidak ada yang bisa diminta pertolongan di tanah rantau.

   Masa awal pernikahan memang berat. Apalagi saat hamil dan setelah melahirkan anak pertama di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Saya dan suami tidak mendapat asisten untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Meski tanpa asisten, dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga, saya tidak sendirian. Suami selalu membantu saya. Kami berbagi tugas. Tugas suami adalah mencuci, mengepel, dan menjemur baju. Sedangkan tugas saya adalah memasak, mengangkat jemuran, dan mengurus bayi. Menyetrika pakaian kami lakukan secara bergantian. 

  Saat hamil tua, saya masih ditemani ibu saya selama sebulan sampai beberapa hari setelah melahirkan. Sebelum ibu saya pulang, datang ibu mertua untuk membantu mengurus bayi. Senang sekali ada orangtua yang menemani dan membantu saya merawat Aa Dilshad, bayi laki-laki kami. Namun, setelah ibu mertua pulang sebulan kemudian, apa yang terjadi? Saya kewalahan.

  Minim pengalaman merawat bayi dan harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga sekaligus membuat saya kelelahan. Melihat kondisi saya yang nampaknya sudah mulai kewalahan, suami tidak tega dan menyuruh saya pulang ke kampung halamannya, ke rumah orangtuanya. Kenapa tidak ke rumah orangtua saya? Masalah keluarga yang akhirnya berujung perceraian membuat saya tidak punya tempat untuk pulang. Satu-satunya tempat pulang adalah rumah orangtua suami di kampung. 

   Saya dan suami terpaksa berpisah. Saya tinggal di Bogor, dan suami tetap di Banjarmasin. Untunglah perpisahan kami hanya sementara. Tiga bulan kemudian, suami mendapat tugas ditempatkan di kota Solo. Akhirnya, kami bertiga, saya, suami, dan Aa Dilshad, bisa berkumpul bersama lagi.

   Hidup saya begitu indah. Punya suami yang pengertian, dan seorang bayi yang lucu. Sampai suatu hari, suami saya bertanya, "Kok tumben, kamu nggak sakit-sakitan lagi sekarang?" Wah, saya baru sadar. Iya, ya. Padahal setiap hari repot memasak sambil mengurus anak dan mengerjakan beberapa aktivitas bisa membuat saya kelelahan. Biasanya capek sedikit saya langsung sakit. 

  Saya lalu mengingat lagi saat pernah sakit setelah mempunyai bayi. Rasanya tidak enak sama sekali. Sebagai ibu, rasanya kita tidak boleh sakit! Jika sakit, nanti bagaimana dengan si kecil? Saat tinggal di Solo, kami dibantu mbak asisten. Meski dibantu si Mbak, mengurus anak tetap sepenuhnya dipegang oleh saya sendiri. Mbak biasanya membantu menyiapkan air mandi, memasak bubur bayi, memegang Aa Dilshad sebentar jika saya mandi, dan mengajak Aa Dilshad jalan-jalan jika saya sedang mengetik tugas kuliah suami.

   Ketika saya sakit, Aa Dilshad jadi rewel. Aa seolah tidak rela ibunya tiduran saja. Dia ingin selalu bermain dan berada di dekat saya. Istirahat saya terganggu. Bahkan, jika saya lama tidak sembuh dari penyakit flu misalnya, maka saya beresiko menularkan penyakit tersebut kepada Aa.

   Saya tidak mau sakit! Alam bawah sadar saya mengatakan demikian. Demi anak, saya harus selalu sehat! Saya seolah lupa bahwa saya mempunyai fisik yang lemah dan mudah sakit. Memiliki buah hati adalah cinta monumental saya. Cinta monumental yang bisa mengubah kondisi fisik saya yang mudah jatuh sakit menjadi lebih kuat dan sehat. Ya, saya sekarang sembuh... karena cinta.


"Blogpost ini diikutsertakan dalam Lomba Blog CIMONERS"   

5 comments:

  1. cinta memang luar biasaa ya mak kekuatannya :)..alhamdulillah sekarang sudah sembuh dan jauuuh lbih baik..hidup cinta! makasih sudah ikutan lomba kami ya..salam Cimoners et bon chance :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, alhamdulillah.
      Makasih juga, Mak Indah ^_^

      Delete
  2. Subhanallah.. luar biasa Mak kekuatan cintanya. Kehadiran suami bisa menguatkan ya :-)

    ReplyDelete
  3. artikel yang menarik. saya juga suka menulis coba lihat tulisan saya disini

    ReplyDelete

Mohon meninggalkan berkomentar yang sopan.
Komentar dengan link hidup akan saya hapus.

Terima kasih ^_^