Tuesday, June 4, 2013

Penipu di Toko Obat

credit

Awal merintis sebuah usaha bukanlah sesuatu yang mudah untuk dijalani. Tidak terasa,  sudah setahun Toko Obat Trisad, usaha kecil-kecilan milik kami berjalan. Nama TRISAD diambil dari kesamaan nama belakang ketiga anak kami: Dilshad, Rasyad dan Irsyad.  Rintangan dan hambatan menjadi pemacu kami untuk berusaha lebih keras lagi. Ujian dan cobaan juga kerap menerpa. Seolah ingin menggoyahkan tiang usaha yang baru berdiri ini. Rapuh dan belum berpengalaman.

  Sebelum membuka usaha, kami banyak bertanya kepada keluarga adik suami yang sudah terlebih dahulu membuka toko obat dan sukses.  Kami yakin, kami juga bisa membuka toko obat.  Saya dan suami sama-sama  tidak memiliki latar belakang bidang farmasi. Pengalaman suami di bidang distributor farmasilah yang membuat beliau ingin membuka usaha ini. Sebagai istri, saya sangat mendukung keinginan suami. Bismillah, ala bisa karena biasa. Perlahan tapi pasti, saya mulai belajar tentang obat-obatan.
  Pengalaman adalah guru yang paling berharga. Masalah demi masalah yang datang membuka mata kami untuk lebih banyak belajar. Tanpa gelombang, tidak akan kapal bisa berlayar.  Saya sempat goyah dan ingin menyerah. Namun genderang tekad untuk tetap menjalankan amanah suami kembali bergemuruh setiap saya berpikir untuk berhenti. Maju terus, pantang mundur!
  Cobaan terberat yang paling memukul saya adalah saat toko kemalingan. Mungkin jika dihitung, nilainya tidak seberapa. Namun bagi toko kecil ini, kehilangan sekarung besar stok dagangan cukup menguras modal kami.
Cobaan yang paling sering kami hadapi adalah penipuan. Ya Allah, saya tidak habis pikir, mengapa ada orang yang tega menipu dan menjadikannya sebagai mata pencaharian. Dalam waktu setahun, sudah banyak upaya penipuan terjadi di toko kami. Sebagai pemula yang miskin pengalaman, wajar jika kami akhirnya kena tipu. Beberapa kasus penipuan akan saya ceritakan sebagai berikut:

1. Membeli tanpa membayar
Sama saja dengan mencuri, bukan? Kejadian ini menimpa Mbak Titin, penjaga toko kami.  Sebelumnya, penipu yang adalah seorang ibu ini sering datang ke toko. Setelah melihat-lihat, dia menanyakan obat yang tidak ada di toko. Kunjungan kedua juga demikian. Setiap datang, dia begitu ramah dan banyak bertanya tentang kami. Mengumpulkan informasi. Setelah tahu kami adalah pendatang baru, dia menunggu kami lengah. Tiba waktunya, saat saya sedang di rumah, dia datang lagi dengan terburu-buru. Membawa daftar obat yang ingin dibeli. Setelah barang siap dan dibuatkan nota, dia bilang, “Nanti bayarnya sama ibu (saya, maksudnya) belakangan ya, Mbak. Tadi udah bilang. Kata Ibu boleh.” Si Mbak percaya. Dan sampai detik ini penipu itu tidak tampak lagi batang hidungnya. Jumlah kerugian? Hhhhh…lumayan bikin sesak dada. Sampai nominal 900 ribu, saya tidak berani melanjutkan berhitung kerugiannya. Perih.
Selanjutnya, modus serupa kerap terjadi. Ada yang ujug-ujug datang, sksd (sok kenal sok dekat) dengan si Mbak dan mengaku kenal saya. Buntutnya belanja obat lalu minta berhutang dulu. Wuih, sori yee! Saya baru pulang dari rantau, mana mungkin sudah punya kenalan begitu banyak? Kenalan saya cuma tetangga satu RT, titik. Semua sukses ditolak oleh Mbak Titin, belanjaan tidak diberikan dan para penipu itu pergi dengan tangan hampa.

2. Uang palsu
Seorang pria datang ke toko. Wajahnya sumringah, bahkan terlalu banyak cengengesan menurut saya.  Dia bertanya obat pilek yang biasa diminumnya. Dia menyebut merk X. Saat saya ambilkan, sambil cengar-cengir, dia bertanya, “Cocoknya apa ya?” Lha, gimana sih ni orang, katanya biasa minum obat merk X?! Saya langsung pasang radar. Kemudian orang itu mengeluarkan selembar uang 100 ribu. Saya sentuh dan amati uang tersebut cukup lama, di depan dia tentunya. Kayaknya ada yang aneh. Langsung saya kembalikan dan bilang, “Maaf mas, ada uang yang lainnya? Saya belum ada kembalian. Baru buka.” Dia sedikit terperangah, salting, namun masih cengengesan, “Oh iya deh, Bu. Saya tukar di sana dulu, ya.” Dan dia tidak kembali lagi. Alhamdulillah.
Tidakan pencegahan lain yang saya ajarkan pada Titin: jika ragu uang itu palsu atau tidak, segera bawa ke warung sebelah, pura-pura mau ditukar dulu. Penjaga warung bakso di sebalah toko kami tentu sudah lebih berpengalaman. Jika si Mas Tukang Bakso bilang itu uang palsu, segera kembalikan dan bilang kita tidak punya lagi uang receh. Selesai.
Penting: kelewat cengengesan atau over cengar-cengir juga termasuk ciri-ciri penipu. Dia belum berpengalaman, sehingga grogi dan cengengesan enggak jelas gitu. Beberapa penipu tipe seperti ini juga pernah ditemui Mbak Titin. Buntutnya, orang itu dicuekin hingga akhirnya pergi.

3. Menawarkan dagangan produk obat ‘tidak jelas’
Seorang ibu datang ke toko. Dengan nada memelas, menawarkan dagangan obat luka yang kemasannya sudah buram karena sinar matahari. Dia menawarkan harga murah. Butuh uang, katanya. Dengan tegas, MbakTitin menolak. Good girl! Alhamdulillah, Mbak Titin tahu dia tidak berhak membeli dagangan karena  itu tugas saya dan suami. Apalagi produknya enggak jelas gitu.
Berbicara dengan nada memelas adalah salah satu taktik penipu. Dia ingin kita jatuh iba. Mungkin nanti akan ada penipu yang datang ke toko sambil berurai air mata? Entahlah. Mudah-mudahan jangan sampai kejadian.

4. Menawarkan dagangan dengan memaksa
Paling sering adalah orang yang menawarkan tutup sekring listrik dan obat abate (untuk dilarutkan ke tempat penampungan air). Tetap keukeuh menolak! Itu kuncinya. Jika dia ngotot terus, segera pergi ke depan toko. Pindahkan perdebatan di depan teras toko agar dilihat banyak orang. Siap-siap berteriak minta tolong jika dia macam-macam! Pikirnya, saya atau Titin yang perempuan penjaga toko ini bisa diintimidasi seenaknya! Huh!

5. Mengambil kembalian
Ini baru saja terjadi kemarin (3 Juni 2013). Saya belum sembuh benar, namun sayang jika absen menjaga toko pada pagi hari di awal bulan. Entah firasat, saya agak segan pergi menjaga toko hari itu. Namun, saya tetap pergi. Tumben, saya malas sarapan nasi. Padahal saya tahu, tanpa sarapan nasi tubuh saya akan mudah lemas. Benar saja. Saat menjaga toko, saya mulai lemas karena lapar. Saat itulah saya kurang konsentrasi sehingga mudah ditipu orang. Kejadiannya begitu cepat, dia datang ke toko menanyakan obat batuk. Membayar dengan selembar uang 100 ribu. Saya berikan obat dan kembaliannya. Ternyata, dia tidak langsung pergi, kembali lagi dan bilang mau cari obat yang lain saja. Obat yang tadi tidak jadi. Saya ambil obat dan kembaliannya. Uang 100 ribu saya kembalikan. Lalu orang itu mulai marah-marah minta dicarikan obat lain. Karena sibuk, saya tidak memperhatikan uang kembalian tadi. Sungguh, saya merasa sudah memasukkan uang itu ke dompet toko! Jadi saya santai saja menuruti keinginan dia, mencarikan obat lain. Cukup lama obat ‘diacak-acak’olehnya. Minta dicarikan yang cocok. Rupanya itu strategi dia agar saya sibuk. Benar, saya jadi lost focus karena sibuk mencari obat. Dia lalu pergi dengan marah karena tidak menemukan yang cocok dan akan membeli di toko lain. Dengan santai, saya mempersilakan dia pergi. Dua detik kemudian, saya baru sadar, uang kembalian hilang! Astagfirullah, dia maling! Pantas motornya langsung ngebut tadi!
Sebenarnya, saya sudah curiga saat orang itu memindahkan motornya ketika datang. Awalnya motor diparkir di pinggir jalan. kemudian dia memindahkan motor ke teras toko, hingga posisinya jadi lebih dekat. Biasanya hanya Mbak Titin yang memarkir motornya di teras. Kalau dia memarkir motor di teras juga, kesannya dia ingin singgah lebih lama. Belakangan, saya tahu sebabnya. Ternyata parkir di teras memudahkan dia untuk segera melarikan diri. Jika motor diparkir di pinggir jalan, perlu waktu bagi dia untuk berjalan kaki dulu ke motor lalu pergi. Dengan langsung melompat ke motor, saya tidak punya kesempatan untuk berteriak dan mengejar. Sudah terlambat.

  Hhhh....*menghela napas* dari semua kejadian, kami sudah mengiklaskan semua barang dan uang yang hilang. Biarlah kehilangan ini menjadi pelajaran bagi kami untuk lebih berhati-hati lagi. Dan untuk para penipu, apakah kalian tidak malu menjalani hidup dengan rejeki yang tidak halal. Semua yang haram tidak akan menjadi berkah baik di dunia dan akhirat kelak. Semoga para penipu ini dibukakan pintu hatinya untuk segera bertobat. Kembali ke jalan yang benar.
  Penipuan lebih rentan terjadi pada toko yang baru dibuka. Cerita dari para tetangga toko juga bisa menjadi pelajaran agar kami lebih waspada. Misalnya, toko handphone sudah beberapa kali ditipu orang. Jumlahnya jelas tidak sedikit. Si Mbak Pemilik Toko Hp sempat tertekan dan ingin gulung tikar saja. Namun ibunya terus menyemangati hingga dia bisa bertahan sampai sekarang. 
   Semangat! Meski selalu dibayangi para penipu, usaha ini akan tetap kami pertahankan.   Kami tidak takut, wahai penipu! Sekarang kami jadi lebih berhati-hati, terutama dalam menghadapi pembeli. Penipu selalu berkedok sebagai pembeli untuk melancarkan niat jahat mereka. Waspadalah! Waspadalah!!!


11 comments:

  1. Hhhhhh... *ikutan menghela napas... duh pengalamannya bikin nyesek yah Mak. Dasar penipuuuhhh.....
    Untungnya saya belum pernah ngalamin di tipu mak, tapi sudah pernah 2 x juga kecurian. Waktu itu malam2 saya lupa ngangkat uang dari laci, eh besok paginya semua sudah terbongkar habis. Cuma di sisain koin2 doang.
    Eh, pernah juga deh kehilangan beberapa obat. Waktu itu ada yang nitip obat produk xxx gitu, harganya cukup mahal sekitar 100rban /btl. Tapi saya ambil sj karena kata mereka nanti laku baru bayar. Beberapa kali transaksi masih lancar. Trus suatu hari yg punya obat dtg dan nagih harga obatnya, eh saya baru sadar obat itu hilang dari etalase beberapa btl, pdhal blm ada yg beli. Tapi yg jual ngotot mesti di bayar. Lah, saya mau bayar gimana wong belum ada yg laku... terpaksa saya bayar saja.
    Karena kesal saya kembalikan saja semua obat sisanya.
    Lama2 saya baru sadar, kemungkinan dia sendiri yang ambil obat itu, karena memang dia tau letaknya dan gampang di jangkau dengan tangan tanpa perlu masuk ke areal penjualan apotek. Sedangkan waktu dia datang menagih itu saya sedang di belakang dan agak lama baru ke depan saat dia panggil2.
    Dan produk obatnya itu belum terlalu terkenal dan baru saya tawarkan kalau ada yang mengeluh teentang penyakitnya.

    #duh maaf mak jadi ikut2an curcol nih....

    ReplyDelete
    Replies
    1. hadeuuhh Mak, ikut keki juga :(
      Kayaknya semua penipu tahuu aja barang mana yg mahal mana yg enggak. Penipu yang beli ga bayar jg gt, Mak, ngerti obat yg mahal (hampir semua yg diambil merk terkenal n harganya lumayan). Kayaknya memang sudah paham betul dan mungkin punya usaha yg sama, jualan obat.
      Kalo yg titip jual di toko alhamdulillah ga ada yg aneh dan urusan lancar terus. Tapi ga semua permintaan titip sy penuhi, takut ga laku juga n menuh2in tempat, hehe
      Duh, semoga kita dijauhkan dari para penipu ini, ya Mak

      Delete
  2. Kalau usaha sendiri memang banyak cobaannya ya Mak..yang sabar ya...Insyaallah Tuhan pasti ganti yang lebih besar rejekinya daripada yang hilang2 tadi..^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin...makasih doanya, Mak *peluk*

      Delete
  3. sabaaar ya Maak... setiap cobaan ada hikmahnya. Ambil positifnya saja. Nice artikel :)

    ReplyDelete
  4. Hmm... banyak juga ya modus penipuan kayak gitu, bener2 harus hati2... yg sabar ya Mak.. InsyaAllah diganti kok sama yg lebih bagus dan berkah.. amiiiin..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, terima kasih doanya, Mak Riski :)
      Iya, jadi pengalaman berharga untuk lebih berhati-hati lagi

      Delete
  5. Harus hati-hati dalam memilih Bisnis Online, harus cari referensi sebanyak-banyaknya biar gak salah pilih dan biar gak buntung, jangankan dapat penghasilan gede bonus dan fee lainnya, modalpun tidak kembali. Jika anda ingin kerja secara online silahkan kunjungi Lowongan Kerja Online Bukan Penipuan Membuka Pendaftaran

    ReplyDelete
  6. fyuh..Alhamdulillah bisa tetep survive ya mak..semangat!!

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah...semoga bisa terus survive.
    Makasih, Mak ^_^

    ReplyDelete

Mohon meninggalkan berkomentar yang sopan.
Komentar dengan link hidup akan saya hapus.

Terima kasih ^_^