Friday, April 19, 2013

Berwisata ke Tana Toraja



   Halo Keke! Halo Naima! Wah, Bunda Keke dan Naima bikin Give Away! Ikutan, ya. Sebelum bercerita, kita kenalan dulu, yuk. Panggil saja Ateu Inna. Ateu Inna dan Om Dadang punya tiga anak laki-laki. Mereka dipanggil: Aa Dilshad (kelas 5 SD), Kk Rasyad (kelas TK B), dan Dd Irsyad (umur 2,5 tahun). Kami sekelurga pernah hidup merantau seperti keluarga Gipsy. Keke dan Naima tahu orang Gipsy itu apa? Orang Gipsy hidupnya tidak pernah menetap di suatu tempat. Selalu berpindah-pindah. Kami sekeluarga juga begitu. Pekerjaan Om Dadang membuat kami sudah merantau dan tinggal di berbagai kota di Indonesia. Mulai dari Semarang, kami pindah ke Banjarmasin. Kota berikutnya adalah Solo, Denpasar, Bogor, Palangkaraya, Makassar, dan kembali lagi ke Bogor.

   Begitu tahu Bunda Keke dan Naima bikin Give Away ini, sebenarnya Ateu bingung. Kami sekeluarga sangat suka jalan-jalan, sama seperti Keke dan Naima. Sayang, sejak berhenti merantau dan tinggal di Bogor, Ateu Inna dan Om Dadang sama-sama sibuk. Hampir tidak pernah jalan-jalan seru lagi, nih. Cerita jalan-jalan kami sebenarnya ada banyak. Namun yang sempat tertulis di blog baru sebagian kecil. Tentang petualangan kami di rantau, Keke dan Naima bisa baca di sini

  Alhamdulillah, Bunda memperbolehkan postingan lama yang ditulis ulang untuk ikut dalam Give Away ini. Setelah berdiskusi dengan Aa Dilshad, kami sepakat memilih Wisata Toraja untuk dibaca oleh Keke dan Naima.Keke sudah siap? Naima juga? Simak yaa :)
   Tanggal 4 November 2011 kami pergi ke Toraja untuk menghadiri pernikahan Om Tony, karyawan di kantor Om Dadang. Berangkat dari Makassar, kami tiba di Tana Toraja setelah menempuh perjalanan selama 9 jam dengan mobil. Berangkat jam 9 pagi dan tiba saat maghrib. Berhenti beberapa kali untuk istirahat dan mengganti baju Dd Irsyad yang muntah. Istirahat makan siang dan shalat di mesjid di pinggir jalan.  Oiya, di tengah perjalanan yang berbelok-belok melintasi bukit, kami sempat singgah sebentar di pinggir jalan. Sekalian beristirahat sambil menikmati pemandangan di sebuah tempat wisata bernama Gunung Nona. 
Berfoto di depan gunung Nona
   Kami tiba di hotel Missiliana di daerah Rantepao Tana Toraja. Hotel ini bersih dan rapi. Ada Kolam renangnya juga. Penataan tamannya juga cantik. Plus deretan tongkonan (rumah adat Toraja) yang disewakan menambah unik suasana. Oia, udara di Toraja sejuk, lho. Di kamar hotel, kami tidak perlu menyalakan AC lagi. Brrr! Dingin!

Dd Irsyad di depan kamar hotel
Aa, Kk dan Dd di depan rumah tongkonan di area hotel
   Setelah check out dari hotel, kami segera menuju Londa, tempat pemakaman berbentuk gua. Letaknya kebetulan tidak jauh dari hotel. Dari pinggir jalan raya, masuk lagi sejauh 1,8 km untuk mencapai Londa.  

   Pagi itu cuaca cerah. Kami diantar oleh seorang guide yang membawakan lampu petromaks untuk masuk ke dalam gua. Berjalan kaki dari tempat parkir, melintasi sawah yang menguning. Dari kejauhan sudah tampak mulut gua tempat makam berada.

Makam dalam gua terlihat dari kejauhan
   Sampai di depan mulut gua. Foto-foto dulu ah …
Di depan makam
Aa Dilshad berpose dibawah patung tau-tau
    Di depan gua terdapat patung orang-orangan atau tau-tau dalam bahasa Toraja. Tau-tau sengaja dibuat menyerupai orang meninggal untuk menghormati mereka yang dimakamkan di gua ini. Ada dua buah gua, sebelah kiri dan sebelah kanan. Isinya sama, tempat tengkorak orang-orang yang sudah meninggal.
2 tengkorak menyambut pengunjung di depan gua
"Yuk, masuk! Jangan takut." kata Om Guide
   Selanjutnya, yuk, kita masuk ke dalam gua. Suasana dalam gua sangat  gelap, lembap, dan sedikit menyeramkan.Tengkorak dan tulang belulang  manusia terlihat berserakan dimana-mana. Kk Rasyad takut. Kalau Keke gimana, berani? Naima takut tidak melihat tengkorak? Enggak apa-apa, kok. Kalau tengkoraknya jalan-jalan baru deh, kita boleh takut, hehe
Tengkorak dimana-mana
Yang di atas adalah makam bayi dan anak-anak
    
Tengkorak di dinding gua
  Sebenarnya kuburan atau makam yang ada di dalam gua adalah makam orang biasa. Kaum bangsawan yang meninggal ditempatkan dibagian atas gua berbatu cadas. Saat menaruh jenazah di atas sana membutuhkan keahlian memanjat tebing yang hebat. Di atas, peti mati kaum bangsawan yang mewah diletakkan. Di dalam peti banyak barang-barang berharga milik almarhum ikut tersimpan.  Tentu saja tidak ada orang yang berani mencurinya. Manjat tebingnya saja susah!
   Mengapa makamnya diletakkan di tempat yang tinggi? Menurut Om Guide, orang Toraja percaya, semakin tinggi letak kedudukan makam, maka akan semakin mudah orang yang meninggal untuk mencapai puya (artinya:surga), karena jaraknya semakin dekat dengan langit.
   Sebelum melanjutkan ke tempat wisata berikut, kami singgah dulu ke toko souvenir untuk membeli cindera mata. Om Dadang memilih pajangan tongkonan untuk dibawa pulang.
Deretan toko souvenir
   
   Selanjutnya kami menuju Kete Kesu untuk melihat rumah adat tongkonan. Lokasinya  terletak di kampung Bonoran, Kelurahan Tikunna Malenong, Kecamatan Sanggalangi, Toraja Utara, Sulawesi Selatan.  
  Tongkonan tersebut didirikan oleh Puang Ri Kesu dan diwariskan secara turun temurun kepada kekerabatannya. Turunan Puang Ri Kesu masih hidup sekarang. Kompleks itu menjadi cagar budaya, tetap digunakan sebagai ajang kegiatan adat tapi tidak ditinggali. Kete Kesu adalah potret kebudayaan megalitik di Tana Toraja yang paling lengkap.

Latar belakang tongkonan dari kejauhan
      Kawasan ini terdiri dari delapan tongkonan induk, lengkap dengan lumbung padi (alang sura), area upacara pemakaman (rante) dan tempat pertemuan adat. Tongkonan ini sudah sangat tua. Konon ada yang berusia 150 tahun, terbukti dari atap yang terbuat dari susunan bambunya sudah ditumbuhi tumbuhan liar. 
Berpose bersama
Ciluk baaa...
   Tongkonan-tongkonan itu terlihat unik dengan ukiran dan ornamen khas Toraja. Dilengkapi dengan tanduk kerbau yang disusun dii depan tongkonan, sedangkan di dinding samping sebelah luar tampak pula tulang rahang yang tersisa dari kepala kerbau. sebagai penanda berapa banyak kerbau yang telah dikorbankan saat upacara kematian dilangsungkan. Semakin banyak dan semakin tinggi tanduk yang tersusun menandakan semakin tinggi derajat sosial penghuninya. 
Susunan tanduk kerbau
Kepala kerbau di depan dan tulang2 rahang kerbau di samping tongkonan
   Kerbau menjadi hewan korban saat kematian, di samping babi. Menurut kepercayaan setempat, arwah kerbau menjadi sarana transportasi bagi arwah orang yang meninggal saat menuju puya (surga).
   
Jalan pulang
   Di kompleks Kete Kesu, pengunjung juga sekaligus dapat menengok kubur batu, yang letaknya sekitar 50 meter di belakang tongkonan. Namun kami sengaja tidak berkunjung ke sana mengingat keterbatasan waktu. Kami masih harus menghadiri pernikahan. Nanti takut terlambat. 


Menghadiri pernikahan adat Toraja

   Nah, sekian dulu cerita dari Ateu Inna. Kapan-kapan ajak Ayah dan Bunda ke Toraja,ya. Saran Ateu, jika Keke dan Naima mau ke Toraja, sebaiknya jangan sehari atau dua hari. Supaya Keke dan Naima bisa puas menjelajah Tana Toraja. Beberapa tempat lainnya juga tidak kalah seru, lho. Apalagi jika Keke dan Naima datang ke Tana Toraja di bulan Desember. Biasanya saat itu ada upacara adat Toraja untuk pemakaman. Wah, perhelatan akbar ini seru banget, lho. Turis-turis mancanegara juga ramai berdatangan. Sebelum pergi, cari informasi dulu, apakah ada upacara pemakaman atau tidak. Biasanya travel setempat sudah tahu tentang informasi ini.
   Salam sayang dari Aa Dilshad, Kk Rasyad, dan Dd Irsyad. Semoga suatu saat kita bisa bertemu untuk bermain bersama :)

Postingan ini diikutsertakan dalam 1st Giveaway : Jalan-jalan Seru untuk Keke dan Nai






10 comments:

  1. Wah Aa Dilshad ikut memilih. Pasti berkesan bgt jalan2nya, ya. Terima kasih sdh berpartisipasi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih kembali Bunda Ke2Nai :)
      Iya, tadinya sy pilih Orangutan di Nyaru Menteng.
      Pas nanyain ke Aa, Aa protes: kenapa ga Toraja aja, Bu?
      Saya: kenapa A?
      Aa: Aa lebih suka Toraja.
      Lalu sy tanya lg: mau Aa yg nulis (Aa punya blog sendiri) atau Ibu yg nulis?
      Aa jawab: ibu aja deh yg nulis.
      Hihi, Aa memang masih gimana mood kalo mau nulis blog :P

      Delete
  2. Sereeeem, asik sekali ya bisa menjadi penjelajah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, mba Astin :)
      Hihi, serem ya? Ternyata ga terlalu menakutkan kok. Apa karna kami pemberani ya? hehe

      Delete
  3. Hiii ngeri tapi kayaknya perlu juga dicoba masuk goa buat uji nyali. salam kenal mbak

    semoga sukses GA-nya ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silahkan, pak Lozz Akbar :)
      Buat uji nyali, berarti jangan bawa petromaks, ya :p
      Terima kasih. Salam kenal kembali :)

      Delete
  4. Wah komplit baget reportasenya.
    Tana Toraja memang terkenal ebagai daerah wisata.
    Semoga berjaya dalam GA
    Jangan lupa ikut kontesku jeng
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, pakdhe :)
      wah, kontes foto ya? Insya Allah saya mau ikutan.
      Salam kenal dari bogor, pakdhe cholik *salim*

      Delete
  5. Ateu Inna Ikooott..
    ga papa suruh jagain ketiga putranya juga,biar emak ga riweuh lagih..

    ReplyDelete
  6. Hayuuukkk!
    Asyiikk! Sirius nih Ateu Nchie Hanie sanggup? *sodorin 3boyz*plus aer minum*plus jajanan anak2 sekresek* :D

    ReplyDelete

Mohon meninggalkan berkomentar yang sopan.
Komentar dengan link hidup akan saya hapus.

Terima kasih ^_^